<?xml version="1.0" encoding="utf-8" standalone="yes"?>
<rss version="2.0" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">
    <channel>
        <title>Posts on Zhafir Atha Archives</title>
        <link>https://zhafirathaarchives.uk/post/</link>
        <description>Recent content in Posts on Zhafir Atha Archives</description>
        <generator>Hugo -- gohugo.io</generator>
        <language>en-us</language>
        <lastBuildDate>Mon, 08 Dec 2025 18:06:01 +0700</lastBuildDate><atom:link href="https://zhafirathaarchives.uk/post/index.xml" rel="self" type="application/rss+xml" /><item>
        <title>Wajah Ganda Bencana Sumatra</title>
        <link>https://zhafirathaarchives.uk/post/wajah-ganda-bencana-sumatra/</link>
        <pubDate>Mon, 08 Dec 2025 18:06:01 +0700</pubDate>
        
        <guid>https://zhafirathaarchives.uk/post/wajah-ganda-bencana-sumatra/</guid>
        <description>&lt;img src="https://zhafirathaarchives.uk/post/wajah-ganda-bencana-sumatra/bencana-sumatra.jpg" alt="Featured image of post Wajah Ganda Bencana Sumatra" /&gt;&lt;p&gt;Baru saja saya menulis tentang lagu-lagu Iwan Fals mengenai tragedi, sementara tragedi atau bencana yang sebenarnya sedang terjadi di Sumatra. Di sana, banjir bandang sedang melanda, mengakibatkan jutaan orang terkena dampaknya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Akibat krisis iklim, daerah di ujung barat Indonesia terkena hujan dengan curah yang tinggi, bahkan ada yang sampai 411mm per harinya. Jika curah hujan dengan 100mm per hari saja sudah dianggap sangat lebat, maka jumlah 411mm itu empat kali lipatnya&lt;a class=&#34;link&#34; href=&#34;https://www.kompas.id/artikel/kapan-curah-hujan-tinggi-pemicu-bencana-di-sumatera-berakhir&#34;  target=&#34;_blank&#34; rel=&#34;noopener&#34;
    &gt;&lt;sup&gt;[1]&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;. Jumlah tersebut bisa anda bayangkan seperti lahan 1m² dituangi ±20 galon air.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Tak heran jika Sumatra tidak mampu untuk menampung seluruh airnya, sehingga bencana pun akhirnya tak terelakkan. Daerah yang terdampak lumpuh total, perekonomian tidak berjalan, orang-orang terjebak, mobil-mobil hanyut, bahkan sebanyak 920 nyawa per 8 Desember 2025 telah hilang&lt;a class=&#34;link&#34; href=&#34;https://www.tempo.co/politik/basarnas-update-korban-jiwa-banjir-sumatera-974-orang-per-senin-2097030&#34;  target=&#34;_blank&#34; rel=&#34;noopener&#34;
    &gt;&lt;sup&gt;[2]&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Seluruh dunia melihat bencana ini, masyarakat beramai-ramai menggelar aksi solidaritas untuk Sumatra. Pemerintah sampai presiden pun ikut turun tangan dengan karung bantuan ditempeli poster bergambar wajahnya. Sebelum kesana, apakah benar bencana ini terjadi hanya karena curah hujan yang tinggi, bahkan bisa dibilang sangat ekstrim?&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Menyalahkan fenomena alam memang mudah, hujan tidak akan marah jika disalahkan. Tapi bencana yang terjadi tidak semata-mata karena hujan, ada proses campur tangan manusia dibaliknya. Bisa dibilang manusia sendiri yang secara khusus mengundang bencana besar lewat 1,4 juta hektare lahan yang mengalami deforestasi pada kurun waktu 2016-2024&lt;a class=&#34;link&#34; href=&#34;https://www.walhi.or.id/legalisasi-bencana-ekologis-di-sumatera-barat-aceh-dan-sumatera-utara-dan-tuntutan-tanggung-jawab-negara-serta-korporasi&#34;  target=&#34;_blank&#34; rel=&#34;noopener&#34;
    &gt;&lt;sup&gt;[3]&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Ahli geologi dari UGM menjelaskan jika bencana di Sumatra terjadi karena &lt;em&gt;coupled hazard&lt;/em&gt;, di mana faktor alamiah dan antropogenik saling menguatkan sehingga bencana terjadi lebih destruktif&lt;a class=&#34;link&#34; href=&#34;https://www.tempo.co/politik/pakar-geologi-ugm-jelaskan-penyebab-banjir-sumatera-bisa-berdampak-dahsyat-2096442&#34;  target=&#34;_blank&#34; rel=&#34;noopener&#34;
    &gt;&lt;sup&gt;[4]&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;. Sederhananya, bencana terjadi karena perpaduan dari adanya cuaca ekstrim, kerusakan hutan, dan geomorfologi alami Sumatra.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Ibarat Sumatra diserang curah hujan yang tinggi, benteng yang mempertahankannya adalah hutan-hutannya. Hutan ini yang bekerja sebagai spons digunduli, benteng penyerap hujan tersebut otomatis runtuh. Sebagai gantinya air hujan secara masif menjadi banjir bandang, turun melewati lereng-lereng Sumatra, menghancurkan apa pun yang dilewatinya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Pohon-pohon besar dengan akar-akar yang kuat dibabat habis, diganti dengan sawit yang katanya &amp;ldquo;sama-sama pohon kok&amp;rdquo;. Nyatanya, WALHI mencatat bahwa kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) di wilayah terdampak seperti Aceh sudah sangat parah, bahkan mencapai 75% di wilayah tertentu akibat tambang ilegal dan ekspansi perkebunan&lt;a class=&#34;link&#34; href=&#34;https://www.walhi.or.id/legalisasi-bencana-ekologis-di-sumatera-barat-aceh-dan-sumatera-utara-dan-tuntutan-tanggung-jawab-negara-serta-korporasi&#34;  target=&#34;_blank&#34; rel=&#34;noopener&#34;
    &gt;&lt;sup&gt;[3]&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;. Ada lagi tuh yang bilang kalo zero mining itu goblok, siapa ya?&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Narasi konyol yang bilang &amp;ldquo;sawit juga pohon dan sama-sama punya daun&amp;rdquo; juga apa dia tidak tahu (atau pura-pura) soal daya infiltrasi? Tanah dengan pohon-pohon alami mempunyai struktur berpori dan menyerap air, sementara tanah sawit tidak punya kemampuan itu&lt;a class=&#34;link&#34; href=&#34;https://fwi.or.id/kebun-sawit-tak-seharusnya-gantikan-fungsi-hutan/&#34;  target=&#34;_blank&#34; rel=&#34;noopener&#34;
    &gt;&lt;sup&gt;[5]&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;, membiarkan air mengalir sampai jauh. Air langsung berselancar liar membawa lumpur, gelondongan kayu, dan material sisa penebangan ke pemukiman warga.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Terus kalo sudah begini bagaimana? Total kerugian yang ditaksir mencapai IDR68 triliun&lt;a class=&#34;link&#34; href=&#34;https://money.kompas.com/read/2025/12/08/083931626/kerugian-banjir-sumatera-capai-rp-6867-triliun-siapa-tanggung-jawab&#34;  target=&#34;_blank&#34; rel=&#34;noopener&#34;
    &gt;&lt;sup&gt;[6]&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt;, dan ratusan nyawa terbuang sia-sia.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Jadi, ini bukan hanya sekadar musibah alam. Ini adalah bencana yang harus dibayar rakyat kecil akibat keserakahan pembukaan lahan yang tidak terkendali. Hujannya menjadi pemicu, karpet merah yang membuat banjir bandangnya adalah deforestasi. Haduh, jadi ingat saat Harrison Ford mewawancara Zulkifli Hasan, &lt;em&gt;&amp;ldquo;that&amp;rsquo;s not funny&amp;rdquo;.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Memang tidak lucu, apa yang lucu dari deforestasi hutan?&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Dalam film dokumenter &lt;em&gt;Years of Living Dangerously&lt;/em&gt;&lt;a class=&#34;link&#34; href=&#34;https://www.youtube.com/watch?v=Vy5ZI6wUSjM&#34;  target=&#34;_blank&#34; rel=&#34;noopener&#34;
    &gt;&lt;sup&gt;[7]&lt;/sup&gt;&lt;/a&gt; mengenai Taman Nasional Tesso Nilo, Riau, Harrison Ford terlihat geram kepada Zulkifli Hasan yang kala itu menjabat sebagai Menteri Kehutanan. Alasannya lantaran banyak lahan di Taman Nasional berubah menjadi perkebunan sawit. Ditambah Zulkifli Hasan tertawa canggung ketika percakapan sedang serius, bagaimana Harrison Ford tidak marah?&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Oke, kembali ke persoalan awal.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Di tengah bencana dan juga tangisan warga, linimasa media sosial dipenuhi dengan pemandangan pejabat-pejabat yang turun untuk membantu. Salah? Tentu tidak. Namun, bantuan-bantuan yang disalurkan ditempeli poster-poster wajah yang lebih besar daripada tulisan bantuannya. Ada yang memanggul karung, membantu membersihkan rumah warga, menunjuk-nunjuk aliran deras banjir, dan sebagainya. Salah? Sekali lagi, tidak. Tapi niat elit-elit tadi terbaca sekali, cari muka di depan kamera.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Jika Machiavelli masih hidup, mungkin dia akan sangat bangga melihatnya. Apa yang dilakukan elit-elit tersebut adalah implementasi brutal dari tulisannya, &lt;em&gt;Il Principe&lt;/em&gt;. Dari kacamata Machiavelli, hal yang dilakukan oleh mereka itu sudah benar secara politik, memanfaatkan sebaik mungkin kesempatan untuk menaikkan citra&lt;sup&gt;[8]&lt;/sup&gt;.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Masalahnya, rasionalitas politik itu bertabrakan dengan etika publik. Kita marah bukan karena bantuannya, kita marah karena orang-orang itu menganggap bencana ini sebagai komoditas untuk menaikkan citranya, apalagi sengaja sekali melakukannya di depan kamera. Kita marah karena kebenaran politik yang mereka anut sangat menghina akal sehat dan empati kita.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Di tambah status bencana yang belum ditetapkan sebagai &amp;ldquo;Bencana Nasional&amp;rdquo; (per 8 Desember 2025), jadinya terlihat seperti pemerintah pusat memaksa pemerintah daerah untuk mampu menangani bencana semasif ini sendirian. Penentuan status bencana ini terasa politis, jika menjadi bencana nasional, maka pundak tanggung jawab akan dilimpahkan ke pemerintah pusat. Jika tetap bencana daerah, maka pusat masih bisa cuci tangan plus datang sebagai pahlawan sembari bagi-bagi bantuan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Maaf jika saya bilang seperti itu, karena memang susah sekali untuk berprasangka baik terhadap pemerintah, dan juga sudah seyogyanya kita sebagai rakyat untuk memberikan kritik kepada pemerintah. Jika memang pemerintah sudah baik dan benar, ya sudah, tidak perlu kita elu-elukan karena memang sudah sepatutnya pemerintah seperti itu, memang seperti itulah tugasnya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Mereka mungkin lupa, Machiavelli juga dalam tulisannya menyebutkan jika bencana (nasib buruk) itu seperti sungai deras yang banjir. Pemimpin yang hebat (virtuous) adalah pemimpin yang membangun tanggul dan saluran air disaat cuaca sedang cerah, bukan saat banjir sudah datang&lt;sup&gt;[8]&lt;/sup&gt;. Apakah hal ini dilakukan oleh pejabat kita? Tidak. Mereka malah meruntuhkan tanggul yang sudah jadi (hutan) demi tambang dan sawit. Dan saat tanggul sudah jebol, mereka sibuk untuk cari muka.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Bencana sudah terjadi, tanggul (hutan) tidak bisa kembali. Banjir tidak akan surut hanya dengan pose heroik di media-media, hutan tidak akan kembali dengan karung-karung bantuan. Peristiwa ini menjadi cermin terhadap siapa yang kita beri kuasa. Jika pemerintah tidak mengambil pelajaran dari bencana ini, maka bencana berikutnya hanya tinggal menunggu giliran saja.&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;&amp;ldquo;Bencana erosi selalu datang menghantui. Tanah kering-kerontang banjir datang itu pasti. Isi rimba tak ada tempat berpijak lagi. Punah dengan sendirinya
akibat rakus manusia&amp;rdquo;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;— Iwan Fals, &lt;em&gt;&amp;ldquo;Isi Rimba Tak Ada Tempat Berpijak Lagi&amp;rdquo;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;Sekian, dari luapan emosi dengan apa yang terjadi.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Zhafir Atha.&lt;/p&gt;
&lt;hr&gt;
&lt;p&gt;Referensi&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;[1] Ichwan Susanto-. “Kapan Curah Hujan Tinggi Pemicu Bencana di Sumatera Berakhir?” Kompas.id, December 1, 2025. &lt;a class=&#34;link&#34; href=&#34;https://www.kompas.id/artikel/kapan-curah-hujan-tinggi-pemicu-bencana-di-sumatera-berakhir&#34;  target=&#34;_blank&#34; rel=&#34;noopener&#34;
    &gt;https://www.kompas.id/artikel/kapan-curah-hujan-tinggi-pemicu-bencana-di-sumatera-berakhir&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;[2] Tempo. “Basarnas: Update Korban Jiwa Banjir Sumatera 974 Orang per Senin.” Desember | 15.42 WIB 2025. &lt;a class=&#34;link&#34; href=&#34;https://www.tempo.co/politik/basarnas-update-korban-jiwa-banjir-sumatera-974-orang-per-senin-2097030&#34;  target=&#34;_blank&#34; rel=&#34;noopener&#34;
    &gt;https://www.tempo.co/politik/basarnas-update-korban-jiwa-banjir-sumatera-974-orang-per-senin-2097030&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;[3] WALHI. “Legalisasi Bencana Ekologis Di Sumatera Barat, Aceh Dan Sumatera Utara Dan Tuntutan Tanggung Jawab Negara Serta Korporasi.” December 2, 2025. &lt;a class=&#34;link&#34; href=&#34;http://www.walhi.or.id/legalisasi-bencana-ekologis-di-sumatera-barat-aceh-dan-sumatera-utara-dan-tuntutan-tanggung-jawab-negara-serta-korporasi&#34;  target=&#34;_blank&#34; rel=&#34;noopener&#34;
    &gt;http://www.walhi.or.id/legalisasi-bencana-ekologis-di-sumatera-barat-aceh-dan-sumatera-utara-dan-tuntutan-tanggung-jawab-negara-serta-korporasi&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;[4] Tempo. “Pakar Geologi UGM Jelaskan Penyebab Banjir Sumatera Bisa Berdampak Dahsyat.” Desember | 12.58 WIB 2025. &lt;a class=&#34;link&#34; href=&#34;https://www.tempo.co/politik/pakar-geologi-ugm-jelaskan-penyebab-banjir-sumatera-bisa-berdampak-dahsyat-2096442&#34;  target=&#34;_blank&#34; rel=&#34;noopener&#34;
    &gt;https://www.tempo.co/politik/pakar-geologi-ugm-jelaskan-penyebab-banjir-sumatera-bisa-berdampak-dahsyat-2096442&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;[5] “Kebun Sawit Tak Seharusnya Gantikan Fungsi Hutan.” &lt;em&gt;Forest Watch Indonesia&lt;/em&gt;, n.d. Accessed December 8, 2025. &lt;a class=&#34;link&#34; href=&#34;https://fwi.or.id/kebun-sawit-tak-seharusnya-gantikan-fungsi-hutan/&#34;  target=&#34;_blank&#34; rel=&#34;noopener&#34;
    &gt;https://fwi.or.id/kebun-sawit-tak-seharusnya-gantikan-fungsi-hutan/&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;[6] Media, Kompas Cyber. “Kerugian Banjir Sumatera Capai Rp 68,67 Triliun, Siapa Tanggung Jawab?” KOMPAS.com, December 8, 2025. &lt;a class=&#34;link&#34; href=&#34;https://money.kompas.com/read/2025/12/08/083931626/kerugian-banjir-sumatera-capai-rp-6867-triliun-siapa-tanggung-jawab&#34;  target=&#34;_blank&#34; rel=&#34;noopener&#34;
    &gt;https://money.kompas.com/read/2025/12/08/083931626/kerugian-banjir-sumatera-capai-rp-6867-triliun-siapa-tanggung-jawab&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;[7] &lt;em&gt;Years of Living Dangerously&lt;/em&gt;. Season 1, episode 2, &amp;ldquo;End of the Woods.&amp;rdquo; Ditayangkan 20 April 2014, di Showtime. Video YouTube, 56:45. Diunggah oleh &amp;ldquo;The YEARS Project,&amp;rdquo; 2 Maret 2022. &lt;a class=&#34;link&#34; href=&#34;https://www.youtube.com/watch?v=Vy5ZI6wUSjM&#34;  target=&#34;_blank&#34; rel=&#34;noopener&#34;
    &gt;https://www.youtube.com/watch?v=Vy5ZI6wUSjM&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;[8] Machiavelli, N. (2021). &lt;em&gt;Il Principe: Sang Pangeran&lt;/em&gt;. (Dwi Ekasari Aryani, Penerjemah). Yogyakarta: Cakrawala Sketsa Mandiri.&lt;/p&gt;
</description>
        </item>
        <item>
        <title>Iwan Fals — Mengabadikan tragedi lewat nada</title>
        <link>https://zhafirathaarchives.uk/post/rdk-iwan-fals-tragedi-dalam-nada/</link>
        <pubDate>Tue, 02 Dec 2025 17:58:49 +0700</pubDate>
        
        <guid>https://zhafirathaarchives.uk/post/rdk-iwan-fals-tragedi-dalam-nada/</guid>
        <description>&lt;img src="https://zhafirathaarchives.uk/post/rdk-iwan-fals-tragedi-dalam-nada/tampomasII.jpg" alt="Featured image of post Iwan Fals — Mengabadikan tragedi lewat nada" /&gt;&lt;p&gt;02 Desember 2025&lt;/p&gt;
&lt;h2 id=&#34;awalan&#34;&gt;Awalan
&lt;/h2&gt;&lt;p&gt;Akhirnya, setelah bergelut dengan berbagai kesibukan yang datang bertubi-tubi, sempat juga saya untuk mengisi kembali konten di blog ini. Sampai lupa rasanya saya terakhir kali menulis disini karena saya nulis di tempat lain (di word maksudnya, nyiapin skripsi wkwk). Saya juga ga kemana-kemana, jadi bingung juga mau nulis apa sebenarnya kali ini, biasanya kan konten saya ini isinya ya cerita-cerita perjalanan yang saya lakukan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Berhubung kondisinya seperti itu maka saya putuskan untuk menulis opini saya terhadap karya-karya artis, seniman, atau pelaku yang menghasilkan produk yang dibuat berdasarkan apa yang dia rasakan, &lt;em&gt;passion&lt;/em&gt; lah kalo bisa dibilang. Lagu, buku, lukisan, sampai patung akan saya bahas dalam &lt;em&gt;series&lt;/em&gt; kali ini. Perlu diingat jika ini hanya opini atau pendapat saya pribadi ketika saya mendengar, melihat, dan merasakan sebuah karya, jika anda punya pendapat yang berbeda, saya hormati itu. &lt;em&gt;Series&lt;/em&gt; kali ini akan kita sebut saja dengan &lt;strong&gt;Renjana dalam Kata&lt;/strong&gt;.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Karena ini merupakan episode pembuka dalam Renjana dalam Kata, maka saya akan mebahas idola pertama saya sejak saya masih duduk di bangku sekolah dasar yaitu &lt;strong&gt;Iwan Fals&lt;/strong&gt;. &lt;em&gt;&amp;ldquo;Hah, anak kecil kok idolanya Iwan Fals? Apa ga sinkron itu lagu sama umur?&amp;rdquo;&lt;/em&gt; Tenang, saya jelaskan, di lingkungan tempat saya dilahirkan dan dibesarkan, memang hampir semua kalangan di sana sangat suka sekali mendengarkan lagu Iwan Fals. Untuk saya yang memang masih sangat kecil sekali saat itu, saya sangat &lt;em&gt;fomo&lt;/em&gt; dengan orang-orang disekitar saya untuk ikut mendengarkan lagu-lagunya. Yah karena usia saya juga masih anak-anak, lagu-lagu Iwan Fals hanya sekedar didengarkan dan dinikmati saja, anak sekecil itu mana paham makna setiap kata dan nada dalam lagunya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Setelah dewasa kini (dewasa ga tuh), bait lirik yang dibawakan Om Iwan terasa menjadi lebih hidup dan jelas di telinga. Orang-orang mungkin tau Iwan Fals lewat lagu seperti &lt;em&gt;Bongkar, Bento,&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;Pesawat Tempur&lt;/em&gt; yang membuat kuping penguasa pada saat itu panas. Selain lagu-lagu berani, Om Iwan juga mempunyai sisi lembut yang dia hadirkan dalam lagu seperti &lt;em&gt;Yang Terlupakan, Maaf Cintaku, Izinkan Aku Menyayangimu&lt;/em&gt; dan lainnya dengan lirik puitis, manis, namun tidak cengeng.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Masih banyak lagu lainnya yang pernah dibuat oleh Om Iwan dalam hidupnya dengan berbagai tema, khususnya potret kehidupan dari berbagai kalangan, ada tentang guru honorer, orang-orang yang terpinggirkan, sampai pekerja seks komersial. Namun, pada segmen kali ini, secara khusus saya akan membahas karya-karya dari Om Iwan mengenai tragedi-tragedi yang pernah terjadi di masa lampau, juga bagaimana sang legenda ini membawakannya dalam lirik-lirik lagunya.&lt;/p&gt;
&lt;h2 id=&#34;ethiopia-1986--album-ethiopia&#34;&gt;Ethiopia (1986) — Album &lt;em&gt;Ethiopia&lt;/em&gt;
&lt;/h2&gt;&lt;p&gt;
&lt;iframe 
    src=&#34;https://open.spotify.com/embed/track/5Qjj1W86Wb6J0ryrZmO0dg&#34;
    width=&#34;100%&#34;
    height=&#34;152&#34;
    frameborder=&#34;0&#34;
    allowtransparency=&#34;true&#34;
    allow=&#34;encrypted-media&#34;&gt;
&lt;/iframe&gt;

Lewat lagu ini, Om Iwan sukses menggambarkan keadaan bencana kelaparan Ethiopia 1983-1985, sebuah tragedi dengan korban jiwa (meninggal) diperkirakan 400.000 hingga 1.200.000 jiwa &lt;a class=&#34;link&#34; href=&#34;https://en.wikipedia.org/wiki/1983%E2%80%931985_famine_in_Ethiopia&#34;  target=&#34;_blank&#34; rel=&#34;noopener&#34;
    &gt;[1]&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Lewat lirik-lirik yang dikemas dengan metafora dan hiperbola, pendengar langsung dibawa untuk melihat bagaimana kondisi di sana. Ya anda tidak salah baca, lagu ini lebih seperti lensa fotografi yang menangkap momen-momen mengiris hati yang membuat kita mengelus dada dan gelengkan kepala dengan apa yang terjadi di Ethiopia saat itu. Bahkan setelah empat dekade lamanya lagu ini dirilis, lagu &lt;em&gt;Ethiopia&lt;/em&gt; masih bisa menggambarkannya dengan jelas.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Lagu ini dibuka dengan gambaran kelaparan massal yang ekstrim, memberitahukan bahwa lagu ini bukan hanya kritik sosial melainkan sebuah dokumenter yang dibawakan lewat sebuah lagu.&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;&amp;ldquo;Dengar rintihan berjuta kepala&lt;br&gt;
Waktu lapar menggila&lt;br&gt;
Hamparan manusia tunggu mati&lt;br&gt;
Nyawa tak ada arti&amp;rdquo;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;Tidak ada romantisasi apapun, langsung ke inti tragedi. Tanpa diberi waktu untuk berkedip, pendengar mulai dibawa untuk masuk ke dalam lagu &lt;em&gt;Ethiopia&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;&amp;ldquo;Derap langkah Sang Penggali Kubur&lt;br&gt;
Angkat yang mati dengan kelingking&lt;br&gt;
Parade murka bocah petaka&lt;br&gt;
Tak akan lenyap, kian menggema&amp;rdquo;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;Masuk bagian verse lagu, Iwan Fals menyanyikan lirik melalui gambaran &amp;ldquo;Sang Penggali Kubur&amp;rdquo; yang mengangkat mayat hanya dengan kelingking, sebuah metafor hiperbolik yang menunjukan bahwa mayat yang diangkat sudah seringan tulang saja.&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;&amp;ldquo;Lalat lalat berdansa cha-cha-cha&lt;br&gt;
Berebut makan dengan mereka&lt;br&gt;
Tangis bayi di tetek ibunya&lt;br&gt;
Keringkan air mata dunia&amp;rdquo;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;Lalat menjadi pembawaan satir tentang bagaimana di tempat bak neraka itu, hanya lalat lah yang bersuka ria mengerubungi tubuh-tubuh yang kelaparan. Bait demi bait yang dibawa, mewakilkan kepingan apa yang terjadi di Ethiopia, anak-anak kurus kering, tubuh tinggal tulang, dan luka lainnya yang terjadi di sana.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Di bagian bridge lagu, Om Iwan membawakan sebuah puisi yang menambah kesan gelap di lagu ini.&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;&amp;ldquo;Di sana terlihat ribuan burung nazar&lt;br&gt;
Terbang di sisi iga-iga yang keluar&lt;br&gt;
Jutaan orang memaki takdirnya&lt;br&gt;
Jutaan orang mengutuk nasibnya&lt;br&gt;
Jutaan orang marah&lt;br&gt;
Jutaan orang tak bisa berbuat apa-apa&amp;rdquo;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;Burung nazar yang terbang di sisi iga-iga yang keluar itu nyata, bisa dilihat dalam foto-foto &lt;em&gt;Ethiopian famine disaster&lt;/em&gt;. &lt;em&gt;&amp;ldquo;Jutaan orang memaki takdirnya&amp;hellip;&amp;rdquo;&lt;/em&gt; mengekspresikan kehidupan banyak orang atas takdir yang dijalaninya, atas nasib yang menimpanya, atas kemarahan karena ketidakberdayaanya. Dalam lirik tersebut, saya rasa Om Iwan juga ingin menyampaikan bahwa kita tidak akan tahu penderitaan macam apa yang mereka rasakan sebelum kita juga mengalaminya. Maka dari itu keluhanmu saat ini belum ada apa-apanya dibanding keluhan mereka yang di Ethiopia. Intinya: Bersyukurlah.&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;&amp;ldquo;Aku dengar jeritmu dari sini aku dengar&lt;br&gt;
Aku dengar tangismu dari sini aku dengar&lt;br&gt;
Namun aku hanya bisa mendengar&lt;br&gt;
Aku hanya bisa sedih&lt;br&gt;
Hitam kulitmu, sehitam nasibmu kawan&amp;rdquo;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;Di sini Om Iwan berhenti sejenak, seolah-olah tak sanggup lagi untuk melanjutkan lagunya. Lirik ini memperlihatkan konflik moral yang terjadi pada saat itu, bahwasannya tak ada yang bisa kita lakukan, hanya bisa sedih meratapi apa yang sedang terjadi. Bagian ini juga menurut saya menjadi inti dari lagu ini, keputusaan yang disampaikan secara jujur oleh sang vokalis.&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;&amp;ldquo;Waktu kita asik makan waktu kita asik minum&lt;br&gt;
Mereka haus, mereka lapar&lt;br&gt;
Mereka lapar, mereka lapar&amp;rdquo;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;Bagian akhir lagu menunjukan ironi yang menusuk, disaat kita asik makan dan minum, di tempat lain ada orang-orang yang kehausan dan kelaparan. Yah, bagi saya, lirik ini merupakan cambukan keras dan pengingat jika kelaparan itu juga terjadi bersamaan dengan rutinitas kecil kita.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;Track&lt;/em&gt; ini merupakan salah satu lagu favorit saya. Pernah suatu waktu emosi saya sedang terombang-ambing dan tak sengaja lagu ini terputar, karena saya sedang emosional pada saat itu, saya ikut menghayati lagunya, membuat saya meneteskan air mata wkwk. Jadi itulah, &lt;em&gt;Ethiopia&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;
&lt;h2 id=&#34;tolong-dengar-tuhan-1984--album-sugali&#34;&gt;Tolong Dengar Tuhan (1984) — Album &lt;em&gt;Sugali&lt;/em&gt;
&lt;/h2&gt;&lt;p&gt;
&lt;iframe 
    src=&#34;https://open.spotify.com/embed/track/4V2W67Fk131te0jalloPdw&#34;
    width=&#34;100%&#34;
    height=&#34;152&#34;
    frameborder=&#34;0&#34;
    allowtransparency=&#34;true&#34;
    allow=&#34;encrypted-media&#34;&gt;
&lt;/iframe&gt;

Dari Afrika, kita kembali lagi ke Indonesia, dengan luka yang lebih dekat. &lt;em&gt;Tolong Dengar Tuhan&lt;/em&gt; merupakan sebuah lagu tentang letusan Gunung Galunggung pada tahun 1982 di Jawa Barat. Aktivitas gunung pada saat itu baru berhenti setelah 9 bulan, tepatnya pada 8 Januari 1983 &lt;a class=&#34;link&#34; href=&#34;https://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Galunggung#1982&#34;  target=&#34;_blank&#34; rel=&#34;noopener&#34;
    &gt;[2]&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Berbeda dengan penyajian lagu &lt;em&gt;Ethiopia&lt;/em&gt; yang seperti reportase lapangan, penyajian lagu &lt;em&gt;Tolong Dengar Tuhan&lt;/em&gt; terasa lebih seperti dialog, keluhan, bahkan protes terhadap Tuhan. Dengar saja pembukaan lagu ini:&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;&amp;ldquo;Hey Tuhan&lt;br&gt;
Apakah kau dengar&lt;br&gt;
Jerit umatmu&lt;br&gt;
Diselah tebalnya debu&amp;rdquo;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;Om Iwan menyapa Tuhan dengan sapaan &amp;ldquo;Hey&amp;rdquo; yang terdengar lancang dibandingkan dengan &amp;ldquo;Ya&amp;rdquo;, menandakan keintiman seorang hamba yang menuntut perhatian segera. Pengunaan kata &amp;ldquo;Hey&amp;rdquo; juga menunjukan urgensi pada saat itu seolah-olah doa-doa halus sudah tidak mempan.&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;&amp;ldquo;Hey Tuhan&lt;br&gt;
Katanya engkau maha bijaksana&lt;br&gt;
Tolong Galunggung pindahkan ke kota&lt;br&gt;
Dimana tempat segala macam dosa&amp;rdquo;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;Di sini Om Iwan sangat berani dalam liriknya, dengan membawakan satire tingkat tinggi, mempertanyakan konsep keadilan dengan logika manusia yang sederhana. Kenapa desa yang isinya petani lugu, yang &lt;em&gt;&amp;ldquo;hidup tak manja&amp;rdquo;&lt;/em&gt; justru yang habis terkena bencana? Kenapa bukan kota, tempat kemewahan dan segala macam dosa yang diberikan gunung meletus?&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;&amp;ldquo;Berat beban kau datangkan&lt;br&gt;
Pada mereka disana&lt;br&gt;
Cela apa nista apa&lt;br&gt;
Hingga engkau begitu murka&lt;br&gt;
Sungguh ku tak mengerti&amp;rdquo;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;Lirik ini memperjelas bait-bait sebelumnya, rasa frustasi terhadap kesenjangan sosial karena orang-orang kecil yang sudah susah, menjadi semakin susah akibat bencana. Menggambarkan paradoks kejahatan dimana orang baik selalu terkena musibah dan yang jahat aman-aman saja.&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;&amp;ldquo;Acap kali rintih memaki&lt;br&gt;
Setiap duka tuding Ilahi&lt;br&gt;
Jangan salahkan kecewa kami&lt;br&gt;
Bosan dalam irama takdirmu&lt;br&gt;
Walau ku tak terganggu&amp;rdquo;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;Kalimat &lt;em&gt;&amp;ldquo;Bosan dalam irama takdirmu&amp;rdquo;&lt;/em&gt; mewakili titik nadir manusia ketika kata &amp;ldquo;sabar&amp;rdquo; dan &amp;ldquo;takdir&amp;rdquo; sudah tidak lagi bisa menjadi obat penenang. Ketika penderitaan datang bertubi-tubi, wajar jika iman goyah dan manusia mulai menuding langit. Om Iwan memotret sisi manusiawi ini dengan sangat gamblang, bahwasanya kecewa pada Tuhan saat bencana itu adalah respon yang valid dan manusiawi.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Lagu ini ditutup dengan &lt;em&gt;chanting&lt;/em&gt; yang diulang-ulang sampai lagu selesai:&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;&amp;ldquo;Amuk lahar yang datang hanguskan bumi&lt;br&gt;
Tinggalkan arang penghuni desa pergi&lt;br&gt;
Gemuruh batu hancurkan saudaraku&lt;br&gt;
Ulurkan tangan bantulah sesamamu&amp;rdquo;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;Pengulangan bait ini diakhir lagu seolah-olah menunjukkan kepanikan yang tak ada ujungnya, lahar yang terus datang dan batu yang terus bergemuruh. Pada akhirnya, ketika protes kepada langit sudah disampaikan, sisanya tinggal &lt;em&gt;&amp;ldquo;Ulurkan tangan bantulah sesamamu&amp;rdquo;&lt;/em&gt;,  kita sendiri sebagai manusia yang harus saling membantu dalam menghadapi bencana.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Menurut saya, bagian terbaik pada lagu ini ada di bagian terakhir, dengan bait yang berulang-ulang dan nada yang terkesan tergesa-gesa? Hal tersebut mampu membuat saya agak merinding saat mendengarnya, serasa mendengarkan mantra yang diulang-ulang. Lagu ini juga menjadi potret masyarakat agraris yang dikhianati oleh alam yang selalu mereka rawat dan juga rasa frustasi terhadap ketidak adilan nasib.&lt;/p&gt;
&lt;h2 id=&#34;celoteh-camar-tolol-dan-cemar-1983--album-sumbang&#34;&gt;Celoteh Camar Tolol dan Cemar (1983) — Album &lt;em&gt;Sumbang&lt;/em&gt;
&lt;/h2&gt;
&lt;iframe 
    src=&#34;https://open.spotify.com/embed/track/4Y5nUeJ8uPX8qdTUVnww3v&#34;
    width=&#34;100%&#34;
    height=&#34;152&#34;
    frameborder=&#34;0&#34;
    allowtransparency=&#34;true&#34;
    allow=&#34;encrypted-media&#34;&gt;
&lt;/iframe&gt;

&lt;p&gt;Setelah melihat tragedi-tragedi yang terjadi di daratan, mari kita pindah ke lautan. &lt;em&gt;Celoteh Camar Tolol dan Cemar&lt;/em&gt; merupakan sebuah lagu yang menceritakan tentang tragedi tenggelamnya KMP Tampomas II di perairan Masalembo, Jawa Timur pada tahun 1981. Korban dari tragedi ini diperkirakan mencapai 600 jiwa meninggal dunia &lt;a class=&#34;link&#34; href=&#34;https://id.wikipedia.org/wiki/Tenggelamnya_KMP_Tampomas_II&#34;  target=&#34;_blank&#34; rel=&#34;noopener&#34;
    &gt;[3]&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Jika dalam lagu &lt;em&gt;Tolong Dengar Tuhan&lt;/em&gt; Om Iwan memprotes Tuhan, di lagu ini justru sebaliknya, Om Iwan membebaskan Tuhan dari tuduhan. Dia dengan tegas menolak narasi yang mengatakan bahwa targedi Tampomas adalah takdir Tuhan, atau peringatan Tuhan. Lagu ini ngotot untuk mengungkap fakta dan menolak semua alasan yang mengakibatkan ratusan nyawa melayang.&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;&amp;ldquo;Api menjalar dari sebuah kapal&lt;br&gt;
Jerit ketakutan&lt;br&gt;
Keras melebihi gemuruh gelombang yang datang&amp;rdquo;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;Pembukaan lagu ini langsung mengajak pendengan untuk masuk kedalam kobaran api dalam kapal. Bayangkan saja, pada saat gejolak api membakar kapal, jeritan manusia pada saat itu lebih keras melebihi suara gemuruh gelombang laut. Hiperbola disampaikan dengan jelas, manusia terjebak di kapal, panik, tidak ada jalan untuk kabur. Mau kabur kemana? Mereka berada di tengah laut?&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;&amp;ldquo;Asap kematian dan bau daging terbakar&lt;br&gt;
Terus menggelepar dalam ingatan&amp;rdquo;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;Kengerian di kapal ditambah dengan lirik ini, memaksa pendengar untuk membayangkan bagaimana kondisi penumpang terjebak oleh api di tengah laut. Jika dalam &lt;em&gt;Ethiopia&lt;/em&gt; kita melihat potret kelaparan, maka dalam &lt;em&gt;Celoteh Camar Tolol dan Cemar&lt;/em&gt; kita mencium aroma kematian.&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;&amp;ldquo;Hatiku rasa bukan takdir Tuhan&lt;br&gt;
Karena aku yakin itu tak mungkin&lt;/em&gt;
&amp;hellip;
&lt;em&gt;Bukan, bukan itu aku rasa kitapun tahu&lt;br&gt;
Petaka terjadi karena salah kita sendiri&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;Disini, Om Iwan menolak keras jika musibah Tampomas II disebabkan oleh Tuhan yang sekejam itu untuk mengorbankan ratusan nyawa hanya untuk sebuah peringatan. Lalu salah siapa? &lt;em&gt;&amp;ldquo;Petaka terjadi karena salah kita sendiri&amp;rdquo;&lt;/em&gt;, sebuah pengakuan dosa kolektif karena mungkin kelalaian, keserakahan, atau ketidakbecusan manusia.&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;&amp;ldquo;Datangnya pertolongan yang sangat diharapkan&lt;br&gt;
Bagai rindukan bulan lamban engkau pahlawan&lt;br&gt;
Celoteh Sang Camar&amp;rdquo;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;Saya merasa bahwa &amp;ldquo;Sang Camar&amp;rdquo; yang disebutkan dalam lagu ini adalah pejabat atau pemegang kekuasaan pada saat itu. Hal ini tercermin pada judul lagu &lt;em&gt;Celoteh Camar Tolol&amp;hellip;&lt;/em&gt; Diluar itu, pahlawan yang diharapkan oleh penumpang kapal (tim SAR mungkin atau otoritas lainya) sangat lambat dalam penanganan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Di bagian akhir, kemarahan Om Iwan mencapai klimaksnya:&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;&amp;ldquo;Tampomas sebuah kapal bekas&lt;br&gt;
Tampomas terbakar di laut lepas&lt;br&gt;
Tampomas tuh penumpang terjun bebas&lt;br&gt;
Tampomas beli lewat jalur culas&amp;rdquo;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;Mulai dari sini, lirik yang dibawakan bersifat repetitif, mengulang-ngulang, kata-katanya seperti &lt;em&gt;headline&lt;/em&gt; koran yang diteriakan berkali-kali. Liriknya seolah membongkar borok dibalik tragedi ini, karena memang KMP Tampomas II merupakan kapal bekas yang dibeli oleh Pelni pada saat itu dengan harga USD8,3 juta dari PT PANN. Belakangan diketahui bahwa harga jual yang pernah ditawarkan sebelumnya hanya USD6,4 juta &lt;a class=&#34;link&#34; href=&#34;https://www.kompas.id/artikel/korupsi-di-balik-tragedi-tampomas-ii&#34;  target=&#34;_blank&#34; rel=&#34;noopener&#34;
    &gt;[4]&lt;/a&gt;, menyebabkan adanya dugaan korupsi pada kapal tersebut. Hal ini semakin menekankan bahwa kecelakaan ini terjadi bukan karena alam, melainkan karena manusia &lt;em&gt;(man made disaster).&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;&amp;ldquo;Tampomas kasus ini wajib tuntas&lt;br&gt;
Tampomas koran-koran seperti amblas&lt;br&gt;
Tampomas pahlawanmu kurang tangkas&lt;br&gt;
Tampomas cukup tamat bilang naas&amp;rdquo;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;Lagu ini diakhiri dengan kritik terhadap media yang bungkam dan pahlawan atau tim penyelamat yang kurang tangkas. &lt;em&gt;&amp;ldquo;Cukup tamat bilang naas&amp;rdquo;&lt;/em&gt; sarkasme, segampang itukah ratusan nyawa dianggap selesai urusannya hanya dengan bilang &amp;ldquo;nasib sial&amp;rdquo;?&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Karamnya KMP Tampomas II pada masa itu memang cukup kontroversial dan banyak kejanggalan. Musisi lainnya yang mengabadikan tragedi ini kedalam sebuah lagu adalah Ebiet G. Ade lewat &lt;em&gt;Sebuah Tragedi 1981&lt;/em&gt; dan Doel Sumbang lewat &lt;em&gt;Bencana Bencana&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Dalam lagu ini Om Iwan seperti mengajak pendengarnya untuk mengepalkan tangan dan marah terhdap ketidakberesan sistem di balik duka yang mendalam. Saya rasa lagu ini memang ciri khas seorang Iwan Fals sekali, karena penuh kritik dan berani pada masanya.&lt;/p&gt;
&lt;h2 id=&#34;akhiran&#34;&gt;Akhiran
&lt;/h2&gt;&lt;p&gt;Begitulah Om Iwan menuangkan sebuah tragedi kedalam sebuah lagu. Masih ada sebenarnya lagu tentang tragedi dari Iwan Fals seperti &lt;em&gt;1910&lt;/em&gt; tentang tragedi kereta api Bintaro, &lt;em&gt;Kanjuruhan&lt;/em&gt; tentang tragedi hilangnya 135 nyawa di Stadion Kanjuruhan, dan lain sebagainya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Tetapi menurut saya, ketiga lagu diatas sudah cukup untuk memahami bagaimana Om Iwan mengubah duka menjadi nada. Lagu-lagu ini kemudian menjadi monumen pengingat bagi kita di masa sekarang agar tidak lupa.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Sekian,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Zhafir Atha.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;Selesai pada 03 Desember 2025 22:37WIB&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Sumber:&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;[1]: &lt;em&gt;Wikipedia&lt;/em&gt;. “1983–1985 famine in Ethiopia.” November 30, 2025. &lt;a class=&#34;link&#34; href=&#34;https://en.wikipedia.org/w/index.php?title=1983%E2%80%931985_famine_in_Ethiopia&amp;amp;oldid=1325044639&#34;  target=&#34;_blank&#34; rel=&#34;noopener&#34;
    &gt;https://en.wikipedia.org/w/index.php?title=1983%E2%80%931985_famine_in_Ethiopia&amp;oldid=1325044639&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;[2]: &lt;em&gt;Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas&lt;/em&gt;. “Gunung Galunggung.” November 21, 2025. &lt;a class=&#34;link&#34; href=&#34;https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Gunung_Galunggung&amp;amp;oldid=28576968&#34;  target=&#34;_blank&#34; rel=&#34;noopener&#34;
    &gt;https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Gunung_Galunggung&amp;oldid=28576968&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;[3]: &lt;em&gt;Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas&lt;/em&gt;. “Tenggelamnya KMP Tampomas II.” November 14, 2025. &lt;a class=&#34;link&#34; href=&#34;https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Tenggelamnya_KMP_Tampomas_II&amp;amp;oldid=28471648&#34;  target=&#34;_blank&#34; rel=&#34;noopener&#34;
    &gt;https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Tenggelamnya_KMP_Tampomas_II&amp;oldid=28471648&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;[4]: Kompas, Tim Harian. “Korupsi di balik tragedi tampomas ii.” Kompas.id, April 28, 2019. &lt;a class=&#34;link&#34; href=&#34;https://www.kompas.id/baca/utama/2019/04/28/korupsi-di-balik-tragedi-tampomas-ii&#34;  target=&#34;_blank&#34; rel=&#34;noopener&#34;
    &gt;https://www.kompas.id/baca/utama/2019/04/28/korupsi-di-balik-tragedi-tampomas-ii&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;
</description>
        </item>
        <item>
        <title>A Sorrowful Reunion</title>
        <link>https://zhafirathaarchives.uk/post/a-sorrowful-reunion/</link>
        <pubDate>Mon, 20 Oct 2025 19:15:56 +0700</pubDate>
        
        <guid>https://zhafirathaarchives.uk/post/a-sorrowful-reunion/</guid>
        <description>
&lt;iframe 
    src=&#34;https://open.spotify.com/embed/track/1aoN2IqlLDCqbeqLylN7BQ&#34;
    width=&#34;100%&#34;
    height=&#34;152&#34;
    frameborder=&#34;0&#34;
    allowtransparency=&#34;true&#34;
    allow=&#34;encrypted-media&#34;&gt;
&lt;/iframe&gt;

&lt;p&gt;June 24, 2025&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;katanya, jika sebuah cerita belum selesai, akan selalu ada banyak cara untuk mempertemukan dua orang kembali — bahkan jika mereka terpisah sejauh ujung dunia.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;tapi jika cerita itu sudah benar-benar selesai, meskipun mereka berada di tempat yang sama, bernapas di udara yang sama, berdiri hanya sejengkal jarak — mereka tetap tak akan saling lihat.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;disinilah neyra berada,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;menikmati semangkuk mie bersama beberapa temannya setelah melewati hari yang cukup melelahkan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;mereka saling mengobrol ringan dan bercanda tawa dengan riang.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;namun entah mengapa, langit sore itu mendung, dan terasa berbeda.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;bukan hanya sekadar pertanda akan hujan,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;seakan memberi tahu bahwa sesuatu akan terjadi  —  sesuatu yang tidak bisa dicegah, hanya bisa dihadapi&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;dan benar saja,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;pintu kedai terbuka, menampilkan seseorang.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;langkahnya tidak asing, aromanya masih sama,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;dengan seseorang perempuan yang berjalan di sampingnya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;dunia yang tadinya ramai, mendadak senyap.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;He looks as if he knows the way&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;langkah laki-laki itu sempat melambat.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;matanya menatap ke arah meja, tempat neyra duduk dengan temannya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Theo,&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;nama yang sudah lama tidak neyra sebut, namun masih dapat mengejutkan jantungnya dalam sekali detik.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;ia tetap sama, tidak berubah sejak terakhir kali mereka bertemu.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;wanginya, bahkan senyumnya.. masih sama.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;hanya saja senyum itu bukan lagi untuknya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;ia berjalan mendekat,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;ada jeda, sepersekian detik, sebelum akhirnya&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;“Halo, Neyra kan?”&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; sapanya, dengan setengah ragu&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;sapaan sederhana yang cukup mengguncang ruang yang sudah lama ia rapikan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;mereka berjabat tangan,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;seperti dua orang yang pernah mengenal dengan sangat baik, lalu berpura-pura menjadi orang asing yang sopan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;Through his eyes I will hide my fear&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;dan ketika kedua mata mereka bertemu,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;di detik itulah neyra merasa ini adalah momen paling berat dalam hidupnya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;bukan karena theo,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;bukan karena tempatnya — tempat yang pernah mereka kunjungi berdua kala itu&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;tapi karena momen yang terjadi,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;momen dimana neyra harus terlihat biasa-biasa saja, padahal ingin berlari menjauh dan menghilang&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;neyra tidak pernah membenci theo, tidak juga tempat ini.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;yang ia benci hanyalah bagaimana dadanya terasa sesak&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;karena harus terlihat tegar dihadapan seseorang yang tahu persis bagaimana ia menangis&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;neyra menarik senyum kecil dan bertanya&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;“Sendirian aja?”&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;“Oh engga, sama temen”&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;theo melirik ke arah perempuan yang tak jauh dari tempat mereka, lalu memandang neyra kembali.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;tak ada yang bertanya lebih jauh.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;tak ada yang menjelaskan apa-apa.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;karena keduanya tahu — tidak semua hal perlu diucapkan, tidak semua kejelasan membawa kelegaan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;theo berjalan menjauh, menghampiri perempuan yang sudah menunggunya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;dan neyra hanya dapat melihat punggung yang mulai menjauh.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;Living an illusion, but we were so compatible&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;pikirannya kembali pada hari-hari yang dulu mereka lalui bersama.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;dulu..&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;mereka terlihat sangat serasi dan cocok,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;banyak hal yang sama diantara mereka, bahkan lagu yang sama&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;banyak orang menyebut mereka sebagai pasangan ideal — seperti dua potongan puzzle&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;membuat neyra percaya bahwa “sama” berarti “cocok”&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;aneh ya?&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;mereka bahkan tidak pernah benar-benar jadi apa-apa.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;tidak ada label, tidak ada komitmen,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;hanya dua orang asing yang kebetulan saling mengisi ruang yang kosong.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;tanpa neyra sadari,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;mereka hidup dalam ilusi.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;saling menyukai versi terbaik satu sama lain, tanpa tahu versi jujur yang sebenarnya mereka miliki.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;mereka lama kelamaan hanya saling menjaga suasana agar tetap hangat,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;padahal mereka sudah kedinginan dalam diam.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;mereka menghindari konflik, padahal hati mereka sudah retak.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;mereka sangat pandai berpura-pura baik-baik saja,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;dan hebat dalam menunda kenyataan&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;hingga ketika waktunya mereka sudah mulai lelah,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;dan kemudian… selesai.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;begitu saja.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;Do you regret the path you chose?&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;neyra kembali tersadar,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;teman-temanya tak banyak mengatakan apapun,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;hanya mengusap pundaknya berharap itu dapat meringankan apa yang ia rasakan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;dan perlahan obrolan mengalir kembali seperti biasa, sebelum mereka pada akhirnya beranjak pulang.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;tapi tidak ada yang benar-benar biasa setelah itu&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;karena neyra tau bahwa kadang yang lebih menyakitkan dari berpisah,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;adalah bertemu kembali — dan menyadari bahwa semesta memang pandai mengatur ulang semuanya,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;asal bukan &lt;strong&gt;kita&lt;/strong&gt; yang tetap bersama.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;menyesal?&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;mungkin neyra sedikit menyesal.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;bukan karena semuanya berakhir,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;melainkan karena ia terlalu lama diam, dan mencoba menyesuaikan diri agar muat dalam cerita yang bahkan tidak pernah menuliskan namanya di halaman pertama&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;tapi, neyra sama sekali tidak menyesal pernah tertawa bersama theo&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;dan tidak menyesal pernah mengira itu semua cinta&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;karena dari sana, neyra belajar banyak hal.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;bahwa rasa nyaman bukan berarti tanda untuk tetap tinggal,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;dan bahwa cinta tanpa kejelasan, hanya akan menjadi harapan yang melelahkan.&lt;/p&gt;
&lt;hr&gt;
&lt;p&gt;beberapa bulan setelahnya,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;neyra kembali makan di kedai yang sama.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;bukan untuk menengok masa lalu,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;tetapi duduk dengan hati yang sudah utuh kembali.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;neyra pun tak sendirian, seseorang menghampirinya&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;bukan lagi theo, ataupun bayangan lama lainnya&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;tetapi seseorang yang baru, yang cintanya begitu tenang.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;neyra tak lagi harus menebak-nebak peran dirinya didalam cerita,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;tidak harus menyesuaikan bentuknya agar cocok.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;karena kali ini, cinta yang hadir bukan karena “kebetulan cocok” tapi karena saling sadar&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;strong&gt;pada akhirnya, neyra paham&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;p&gt;Beberapa orang memang tidak datang untuk bertahan, mereka hanya datang untuk mengajarkan batas.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Agar saat cinta yang sesungguhnya datang, kita bisa mengenalnya — tanpa ragu.&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;fin&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;made with love, nai&lt;/p&gt;
</description>
        </item>
        <item>
        <title>Jadi Surveyor Di Dieng</title>
        <link>https://zhafirathaarchives.uk/post/jadi-surveyor-di-dieng/</link>
        <pubDate>Tue, 14 Oct 2025 16:20:09 +0700</pubDate>
        
        <guid>https://zhafirathaarchives.uk/post/jadi-surveyor-di-dieng/</guid>
        <description>&lt;p&gt;22 September - 26 September 2025&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Dataran Tinggi Dieng&lt;/p&gt;
&lt;h3 id=&#34;awalan&#34;&gt;Awalan
&lt;/h3&gt;&lt;p&gt;Saat itu, saya sedang di Malang, mencari udara dingin akibat muak dengan panasnya Kota Surabaya. Tiba-tiba, seorang sahabat menelpon saya, mengajak saya untuk menjadi bagian dari proyek dosen sebagai surveyor di Dieng. Awalnya, saya ingin menolaknya, tapi karena saya suka sekali jalan-jalan, saya pikir why not? Apalagi survei di Dieng itu memakan waktu lima hari, segala kebutuhan termasuk makan dan lainnya ditanggung oleh kampus, dapat bayaran pula. Akhirnya saya menerima ajakan itu, tapi sebentar, izinkan saya untuk bersenang-senang terlebih dahulu di Malang hehe.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Minggu sore, saya bergegas pulang menuju Surabaya untuk menyiapkan keperluan yang harus dibawa ke Dieng, tak lupa jaket, sarung, dan pakaian tebal lainnya saya masukan ke dalam tas carrier. Lima hari tentunnya bukan waktu yang sebentar, tas carrier yang akan saya bawa juga hampir penuh, laptop, buku catatan, alat tulis, dan keperluan lainnya turut saya bawa, selain karena kebutuhan survey, alat-alat itu saya bawa karena saya sedang mempersiapkan proposal tugas akhir, yah namanya juga ingin lulus, harus ada perjuangan walau sedikit. Sebagai sarana hiburan, saya membawa joystick untuk bermain game bersama kawan-kawan, walaupun pada akhirnya joystik itu hanya terpakai sekali karena laptop saya error wkwk—entah kenapa, setiap mahasiswa mulai tugas akhir, laptopnya juga suka ikutan stres.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Senin sore, saya berangkat menuju kampus sebagai titik kumpul surveyor yang akan berangkat ke Dieng. Kebutuhan survei dan bersama disiapkan disana, sekalian briefing singkat tentang surat-surat yang diperlukan saat disana, apa saja yang harus diisi, kuesionernya seperti apa, dan lain sebagainya. Surveyor yang berangkat berjumlah enam orang—tiga laki-laki dan 3 perempuan, serta satu orang supir yang akan membawa kami berenam menuju Dieng dan lokasi-lokasi survei disana. Saya dan kawan-kawan mulai berangkat selepas isya, perjalanan panjang dari Surabaya ke Dieng resmi dimulai.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;img src=&#34;https://zhafirathaarchives.uk/post/jadi-surveyor-di-dieng/perbekalan.jpg&#34;
	width=&#34;3840&#34;
	height=&#34;2160&#34;
	srcset=&#34;https://zhafirathaarchives.uk/post/jadi-surveyor-di-dieng/perbekalan_hu_7d536b00cd93c159.jpg 480w, https://zhafirathaarchives.uk/post/jadi-surveyor-di-dieng/perbekalan_hu_53362a7d30873215.jpg 1024w&#34;
	loading=&#34;lazy&#34;
	
		alt=&#34;Perbekalan&#34;
	
	
		class=&#34;gallery-image&#34; 
		data-flex-grow=&#34;177&#34;
		data-flex-basis=&#34;426px&#34;
	
&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Perjalanan menuju Dieng membutuhkan waktu 8 jam—memasuki toll dari gerbang toll Waru, Surabaya, berhenti di rest area madiun, keluar toll di Sragen untuk makan, lalu lanjut lewat toll lagi hingga keluar di exit toll Unggaran, Semarang. Setelah keluar toll, jalanan mulai menanjak dan berkelok-kelok, mirip-mirip dengan jalan di Jawa Barat, yah sama-sama pegunungan kan ya.&lt;/p&gt;
&lt;h3 id=&#34;dieng&#34;&gt;Dieng
&lt;/h3&gt;&lt;p&gt;Waktu menunjukan pukul 03.30 ketika saya sampai di villa tempat saya dan teman-teman akan tinggal selama lima hari kedepan. Turun dari mobil, udara dingin langsung menusuk tajam, tak heran karena pagi itu suhu disana berada di angka 12°C. Saya langsung membakar sebatang rokok, menyesapnya dalam-dalam di kedinginan Dieng, asapnya langsung menghangatkan paru-paru (jangan ditiru ya, mending nyium freshcare aja wkwk). Setelah menghabiskan sebatang rokok, memindahkan barang-barang ke dalam villa, dan rehat sejenak, saya langsung bergegas tidur—bersiap-siap untuk menjalankan tugas di esok hari, eh maksudnya hari itu.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Setelah istirahat, pada jam 10.00 pagi di hari yang sama, kami bertujuh bergegas pergi untuk sarapan dan sekalian bertugas. Oiya, jadi survei ini dilakukan untuk mengetahui tingkat pemahaman masyarakat terhadap energi terbarukan, khususnya geothermal energy atau pembangkit listrik tenaga panas bumi, beserta bagaimana penerimaan masyatakat terhadap power plant tersebut. Survei dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing terdiri dari dua orang, dengan target sepuluh responden per hari.&lt;/p&gt;









  &lt;video controls autoplay muted playsinline style=&#34;width:100%;max-width:800px;&#34;&gt;
    &lt;source src=&#34;https://dl.dropboxusercontent.com/scl/fi/p1nsgi80igb8gp932txqs/20250923_144130.mp4?rlkey=88og0668dqas7hbe0i8rb2p1s&amp;amp;st=2xloa0rt&amp;amp;dl=0&#34; type=&#34;video/mp4&#34;&gt;
    Your browser does not support the video tag.
  &lt;/video&gt;


&lt;h3 id=&#34;survei&#34;&gt;Survei
&lt;/h3&gt;&lt;p&gt;Responden pertama yang saya temui adalah penjaga toko cinderamata Dieng. Setelah di bujuk-bujuk, akhirnya dia pun bersedia menjadi responden bersama temannya. Ditanya mengenai asalnya, ternyata penjaga itu orang Garut, sesama getih sunda dengan saya, tak butuh waktu lama saya dengannya menjadi akrab— &lt;em&gt;nya kitu da ari papanggih jeung sadulur di perantauan mah&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Bertemu dengan responden-responden selanjutnya saya tidak banyak berbicara, karena mayoritas orang-orang disana bercakap menggunakan bahasa ngapak. Untuk itu, saya mengandalkan sahabat saya yang sama-sama wong ngapak untuk memimpin pembicaraan dengan responden—yah agak sulit sih memang mengikuti pembicaraan mereka buat saya yang cuma tau inyong sama kencot doang wkwk.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Setelah adzan ashar berkumandang, tim surveyor kembali menuju villa untuk beristirahat.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Pen carian responden kemudian di lanjut pada malam hari di kawasan utama Dieng yang cukup ramai walau sudah malam. Saya dan sahabat saya masuk ke dalam rumah makan, bukan untuk makan tapi untuk mencari responden. Disana, kami berdua merasakan kehangatan pemilik rumah makan, selain bersedia untuk dijadikan responden, mereka juga menyuguhi kami dengan gorengan dan kopi. Walaupun daerah Dieng sangat dingin, orang-orang disana tetap hangat.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Hari pertama diakhiri dengan berfoto bersama di tugu Titik Nol Dieng, lalu pulang kembali ke villa untuk merekap hasil survei dan dilanjutkan istirahat.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;img src=&#34;https://zhafirathaarchives.uk/post/jadi-surveyor-di-dieng/titik-nol.jpg&#34;
	width=&#34;3000&#34;
	height=&#34;2250&#34;
	srcset=&#34;https://zhafirathaarchives.uk/post/jadi-surveyor-di-dieng/titik-nol_hu_4bd050ff2d8965d7.jpg 480w, https://zhafirathaarchives.uk/post/jadi-surveyor-di-dieng/titik-nol_hu_e1dc976591584d0c.jpg 1024w&#34;
	loading=&#34;lazy&#34;
	
		alt=&#34;Titik Nol Dieng&#34;
	
	
		class=&#34;gallery-image&#34; 
		data-flex-grow=&#34;133&#34;
		data-flex-basis=&#34;320px&#34;
	
&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Hari kedua dan ketiga kurang lebih sama seperti hari pertama. Jadi surveyor ternyata susah-susah gampang, susahnya adalah masyarakat masih takut untuk berpendapat dan curiga dengan kami orang asing. Walaupun masih ada beberapa yang sangat-sangat terbuka mengenai kondisi disana.&lt;/p&gt;
&lt;h3 id=&#34;rasa&#34;&gt;Rasa
&lt;/h3&gt;&lt;p&gt;Ada seorang warga yang mengajak saya ke rumahnya yang sederhana, lalu menjelaskan kondisi air disana yang tidak layak dikonsumsi karena dampak dari operasi power plant. Rasa airnya begitu aneh, asin? Kecut? Bersoda? Entahlah, padahal ada di pegunungan yang dikenal dengan airnya yang segar. Tapi disini? Kebalikannya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Setiap individu disana memiliki pendapat yang berbeda-beda, ada yang terima-terima saja dengan operasi power plant, ada yang memang menolak karena memang efek negatifnya tidak sebanding dengan apa yang didapatkan oleh masyarakat. Masyarakat disana pun masih belum semuanya tahu power plant itu apa, merek hanya sebatas tau nama perusahaannya saja.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;img src=&#34;https://zhafirathaarchives.uk/post/jadi-surveyor-di-dieng/area-panas-bumi.jpg&#34;
	width=&#34;2746&#34;
	height=&#34;2060&#34;
	srcset=&#34;https://zhafirathaarchives.uk/post/jadi-surveyor-di-dieng/area-panas-bumi_hu_2b8debc6f25f1dd2.jpg 480w, https://zhafirathaarchives.uk/post/jadi-surveyor-di-dieng/area-panas-bumi_hu_8e60196e1708985b.jpg 1024w&#34;
	loading=&#34;lazy&#34;
	
		alt=&#34;Area Panas Bumi Dieng&#34;
	
	
		class=&#34;gallery-image&#34; 
		data-flex-grow=&#34;133&#34;
		data-flex-basis=&#34;319px&#34;
	
&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Yang paling saya rasakan saat berada disana adalah kualitas udaranya yang berbau menyengat. Hal ini diperkuat dengan penelitian dari Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) pada tahun 2024 bahwa kualitas udara di Pawuhan, Banjarnegara melewati batas aman dengan kandungan gas beracun mencapai 2 ppm.&lt;/p&gt;
&lt;h3 id=&#34;sikunir&#34;&gt;Sikunir
&lt;/h3&gt;&lt;p&gt;Long story short, target responden untuk survei telah terpenuhi. Mumpung sedang di Dieng, saya bersama rekan-rekan surveyor memutuskan untuk menanjak menuju Sikunir. Puncak Sikunir memiliki ketinggian ±2.300 mdpl, mulai mendaki dari ketinggian ±1.500 mdpl. Jalan menuju puncak sudah bertangga, memudahkan pelancong untuk naik ke atas.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Saat naik, saya berada paling belakang—sweeper, memastikan yang lain agar tidak tertinggal. Berjalan santai, sambil menghisap rokok, sesekali saya berhenti untuk menunggu senior saya beristirahat, memastikan tugas saya agar tidak ada yang tetinggal di belakang.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Sampai pos 3 (saya juga lupa), kondisi saat itu berkabut tebal. Pandangan terbatas. Namun bisa terlihat jika pos 3 pada saat itu sedang ramai, walaupun saya naik pada saat hari kerja. Disana terdapat toilet berbayar dan musholla yang bisa digunakan. Setelah beristirahat dan sembahyang, perjalanan menuju puncak dilanjutkan kembali.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;img src=&#34;https://zhafirathaarchives.uk/post/jadi-surveyor-di-dieng/pos-3.jpg&#34;
	width=&#34;3000&#34;
	height=&#34;2250&#34;
	srcset=&#34;https://zhafirathaarchives.uk/post/jadi-surveyor-di-dieng/pos-3_hu_9bef42d75695a765.jpg 480w, https://zhafirathaarchives.uk/post/jadi-surveyor-di-dieng/pos-3_hu_f26ba3d828bbec0c.jpg 1024w&#34;
	loading=&#34;lazy&#34;
	
		alt=&#34;Pos 3&#34;
	
	
		class=&#34;gallery-image&#34; 
		data-flex-grow=&#34;133&#34;
		data-flex-basis=&#34;320px&#34;
	
&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Perjalanan menuju puncak dari pos 3 tidak terlalu jauh, hanya dalam beberapa menit rombongan kami sudah sampai di puncak. Sama seperti di bawah, Puncak Sikunir diselimuti kabut tebal. Ketika matahari sudah berada sejajar dengan puncak Gunung Sindoro, barulah kabut itu terusir dari Sikunir. Pemandangan yang disajikan dari puncak membuat saya segera mengeluarkan gawai dari saku, mengabadikan momen di Puncak Sikunir.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;img src=&#34;https://zhafirathaarchives.uk/post/jadi-surveyor-di-dieng/potrait-sindoro.jpg&#34;
	width=&#34;3000&#34;
	height=&#34;2250&#34;
	srcset=&#34;https://zhafirathaarchives.uk/post/jadi-surveyor-di-dieng/potrait-sindoro_hu_cd1d8820c47eae31.jpg 480w, https://zhafirathaarchives.uk/post/jadi-surveyor-di-dieng/potrait-sindoro_hu_54e178d4bd0adae8.jpg 1024w&#34;
	loading=&#34;lazy&#34;
	
		alt=&#34;Gunung Sindoro dari Puncak Sikunir&#34;
	
	
		class=&#34;gallery-image&#34; 
		data-flex-grow=&#34;133&#34;
		data-flex-basis=&#34;320px&#34;
	
&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Sekitar 1 jam lebih kami berada di puncak, berfoto, menyaksikan pemandangan, dan bertahan dari dinginnya Puncak Sikunir. Saya juga sempat mengeksplorasi Puncak Sikunir dengan kedua teman saya. Pada saat mengeksplorasi, kami bertiga bertemu dengan pasangan bule asal Austria. Sama seperti pelancong lain, mereka sedang mengambil gambar dengan latar yang begitu mempesona. Iseng saja kami bertiga meminta untuk difotokan karena bule tersebut katanya adalah fotografer.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Begitu selesai, kami mengikuti jejak bule Austria tadi menuju ke barat daya Puncak Sikunir, melewati jalan sempit yang hampir tertutup oleh semak belukar. Sampai di ujung jurang, terlihat Desa Sembungan dengan danau Telaga Cebong. Pemandangan tersebut benar-benar membuat kami takjub, &lt;em&gt;ada ya pemandangan seperti ini?&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;img src=&#34;https://zhafirathaarchives.uk/post/jadi-surveyor-di-dieng/telaga-cebong.jpg&#34;
	width=&#34;7584&#34;
	height=&#34;3760&#34;
	srcset=&#34;https://zhafirathaarchives.uk/post/jadi-surveyor-di-dieng/telaga-cebong_hu_4feeb317b72a8c4f.jpg 480w, https://zhafirathaarchives.uk/post/jadi-surveyor-di-dieng/telaga-cebong_hu_b12df6b1e1277c6f.jpg 1024w&#34;
	loading=&#34;lazy&#34;
	
		alt=&#34;Desa Sembungan dan Telaga Cebong&#34;
	
	
		class=&#34;gallery-image&#34; 
		data-flex-grow=&#34;201&#34;
		data-flex-basis=&#34;484px&#34;
	
&gt;&lt;/p&gt;
&lt;h3 id=&#34;pulang&#34;&gt;Pulang
&lt;/h3&gt;&lt;p&gt;Sepulangnya dari Sikunir, kami berenam tepar, lelah akibat tamasya kecil ke Sikunir. Setelah beristirahat, dan mengisi energi kembali, agenda selanjutnya adalah mendigitalkan hasil survei. Prosesnya adalah dengan memasukan data yang ada di &lt;em&gt;hardfile&lt;/em&gt; ke dalam Google Form, dilakukan satu persatu sampai selesai.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Besoknya, setelah menunaikan ibadah sholat jum&amp;rsquo;at, tim survei berpamitan dengan Dieng untuk kembali ke Surabaya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Sungguh, lima hari yang berkesan selama kegiatan ini. Tidak terbayang oleh saya pertama kali ke Dieng bukan untuk liburan, tapi untuk bertugas. Rasanya disana seperti &lt;a class=&#34;link&#34; href=&#34;https://share.google/9m9hTxTdwTaFziXTq&#34;  target=&#34;_blank&#34; rel=&#34;noopener&#34;
    &gt;Terasering Panyaweuyan&lt;/a&gt; di Argapura, Majalengka tapi dengan versi yang berkali-kali lipat jauh lebih besar. Ditambah kehidupan masyarakat di Dieng dengan iklim yang dingin, mereka bepergian kemanapun selalu mengaitkan sarung di lehernya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;img src=&#34;https://zhafirathaarchives.uk/post/jadi-surveyor-di-dieng/view-puncak.jpg&#34;
	width=&#34;4000&#34;
	height=&#34;3000&#34;
	srcset=&#34;https://zhafirathaarchives.uk/post/jadi-surveyor-di-dieng/view-puncak_hu_b97304b8eb1d9cfe.jpg 480w, https://zhafirathaarchives.uk/post/jadi-surveyor-di-dieng/view-puncak_hu_f2532e8e72800d75.jpg 1024w&#34;
	loading=&#34;lazy&#34;
	
		alt=&#34;View dari Puncak Sikunir&#34;
	
	
		class=&#34;gallery-image&#34; 
		data-flex-grow=&#34;133&#34;
		data-flex-basis=&#34;320px&#34;
	
&gt;&lt;/p&gt;
&lt;h3 id=&#34;akhiran&#34;&gt;Akhiran
&lt;/h3&gt;&lt;p&gt;Dieng yang berarti dalam bahasa kawi mengandung arti &amp;ldquo;Tanah Para Dewa&amp;rdquo;, dulunya adalah tempat suci keagamaan Hindu-Buddha dan disakralkan karena kepercayaannya jika dewa bertempat tinggal di dataran tinggi. Namun, seiring berjalannya waktu, keyakinan itu bergeser, dan tangan manusia mulai mengolah tanah yang dahulu disakralkan itu. Sekarang, Dieng bukan hanya tempet pemujaan, tapi tanah kehidupan dengan ladang kentang, carica, dan lanskap yang memesona. Tanah para dewa itu pun kini berubah menjadi tempat orang mencari rezeki, sekaligus mencari tenang.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Mungkin saja memang seperti itu hidup berjalan, hal-hal yang dahulu dianggap sakral bisa berubah menjadi sesuatu yang sederhana. Tapi justru itu, dibalik kesederhanaan tadi, ada kesakralan baru—bukan lagi di candi, tapi di tawa para petani, di tongkrongan warung kopi, dan di udara dingin pagi yang menyelimuti Dieng. Para dewa di Dieng mungkin tak pergi, mereka hanya pindah tempat—menetap di hati manusia yang menjaga dataran tinggi ini.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Meskipun seperti itu, saya tidak bisa menutup mata dari sisi Dieng yang lainnya. Dibalik hijaunya ladang dan keramah tamahan warganya, ada kekhawatiran yang nyata, tentang kualitas udara dan airnya, dan tentang tanah juga masyarakat diatasnya. Yah semoga saja kedepannya bisa baik-baik saja, untuk tanahnya, untuk warganya, dan untuk Dieng nya sendiri. Saya percaya, alam punya caranya sendiri untuk kembali menyeimbangkan segalanya.&lt;/p&gt;
&lt;blockquote&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;&amp;ldquo;In every walk with nature, one receives far more than he seeks.&amp;rdquo;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;John Muir&lt;/p&gt;&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;Sekian,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Zhafir Atha.&lt;/p&gt;
</description>
        </item>
        <item>
        <title>Pulang (Bagian ke-2)</title>
        <link>https://zhafirathaarchives.uk/post/pulang-bagian-2/</link>
        <pubDate>Sat, 11 Oct 2025 20:16:49 +0700</pubDate>
        
        <guid>https://zhafirathaarchives.uk/post/pulang-bagian-2/</guid>
        <description>&lt;img src="https://zhafirathaarchives.uk/post/pulang-bagian-2/cilacap.jpeg" alt="Featured image of post Pulang (Bagian ke-2)" /&gt;&lt;p&gt;4-7 Juli 2025&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;695km&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Surabaya-Surakarta-Yogyakarta-Kebumen-Cilacap-Ciamis-Majalengka&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Libur semester telah datang, walaupun masih ada beberapa hal yang perlu diurus dan diselesaikan di kampus. Diri benar-benar merasakan libur setelah dua minggu kalender perkuliahan usai, saat itu barulah hidup benar-benar bebas dari hiruk pikuk dunia kuliah, saatnya pulang. Pulang memang hal yang mungkin biasa saja, saya telah beberapa kali juga pulang. Namun, kisah pulang akan saya tulis jika dalam perjalanannya berkesan. Sebenarnya, ini bukan kali pertama perjalanan pulang ini begitu berkesan, tapi karena perjalanan yang pertama sudah begitu lama terjadi, maka mari langsung saja ke bagian yang kedua.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;img src=&#34;https://zhafirathaarchives.uk/post/pulang-bagian-2/jalur-pulang.jpeg&#34;
	width=&#34;1079&#34;
	height=&#34;1360&#34;
	srcset=&#34;https://zhafirathaarchives.uk/post/pulang-bagian-2/jalur-pulang_hu_35073685b993bde7.jpeg 480w, https://zhafirathaarchives.uk/post/pulang-bagian-2/jalur-pulang_hu_38e8df70a5cde019.jpeg 1024w&#34;
	loading=&#34;lazy&#34;
	
		alt=&#34;Rute perjalanan.&#34;
	
	
		class=&#34;gallery-image&#34; 
		data-flex-grow=&#34;79&#34;
		data-flex-basis=&#34;190px&#34;
	
&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Motor Yamaha Alfa produksi tahun 1989 menjadi tunggangan saya dalam perjalanan ini. Syukurlah motor itu kuat menempuh jalan sejauh 695km. Satu teman kuliah juga turut ikut serta dalam menjajah aspal dan debu jalur pantai selatan dengan Yamaha RX Kingnya. Kami berdua berangkat dari Surabaya pada pukul 02.00 pagi.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Pagi itu jalanan begitu sunyi, hanya lampu jalan yang menemani kami di dini hari. Suara knalpot 2-tak dari masing-masing motor kami terdengar sangat merdu, saling sahut, seolah-olah kegirangan atas perjalanan yang akan dimulai. Kami tidak banyak berbicara, sesekali saja saat di lampu merah, entah karena masih mengantuk, atau memang menikmati kesunyian Kota Surabaya yang hanya terjadi di dini hari. Entah mengapa saya sangat bersemangat dengan perjalan kali ini. Perasaan seperti ini jarang sekali dirasakan saat rutinitas kuliah membelenggu keseharian saya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Kami berhenti di Mojokerto, sekalian mengisi bensin untuk si kuda besi tua yang sangat haus (2-tak boros wak). Jalan sebentar dari SPBU, motor teman saya lupa diisikan oli samping (oli khusus motor 2-tak), akhirnya kami berdua menepi sebentar di sebuah bengkel kecil di Trowulan, tempat dimana dahulu Majapahit menjadikannya pusat pemerintahan. Di bengkel yang kecil itu, suasana Trowulan begitu tenang, sulit membayangkan jika ratusan tahun yang lalu tempat ini adalah pusat kekuasaan nusantara.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;img src=&#34;https://zhafirathaarchives.uk/post/pulang-bagian-2/trowulan.jpeg&#34;
	width=&#34;960&#34;
	height=&#34;1280&#34;
	srcset=&#34;https://zhafirathaarchives.uk/post/pulang-bagian-2/trowulan_hu_bd9dcad888d4a372.jpeg 480w, https://zhafirathaarchives.uk/post/pulang-bagian-2/trowulan_hu_e114b465336ff040.jpeg 1024w&#34;
	loading=&#34;lazy&#34;
	
		alt=&#34;Sampai Trowulan.&#34;
	
	
		class=&#34;gallery-image&#34; 
		data-flex-grow=&#34;75&#34;
		data-flex-basis=&#34;180px&#34;
	
&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Pukul 08.00 kami sampai di Caruban, Madiun. Disini rantai dari motor RX King teman saya putus. Akhirnya kami menepi kembali di bengkel, sekalian istirahat dan mendinginkan mesin motor yang overheat.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;img src=&#34;https://zhafirathaarchives.uk/post/pulang-bagian-2/rantai-putus.jpeg&#34;
	width=&#34;960&#34;
	height=&#34;1280&#34;
	srcset=&#34;https://zhafirathaarchives.uk/post/pulang-bagian-2/rantai-putus_hu_95dabcaf9df93a85.jpeg 480w, https://zhafirathaarchives.uk/post/pulang-bagian-2/rantai-putus_hu_ce05b9ed9b8dc7a5.jpeg 1024w&#34;
	loading=&#34;lazy&#34;
	
		alt=&#34;Rantai putus.&#34;
	
	
		class=&#34;gallery-image&#34; 
		data-flex-grow=&#34;75&#34;
		data-flex-basis=&#34;180px&#34;
	
&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Perjalanan dilanjutkan melewati Ngawi, Surakarta, Klaten, sampai Yogyakarta. Di Daerah Istimewa Yogyakarta kami menginap di kost teman saya yang berkuliah disana. Malamnya, kami ngopi terlebih dahulu sekalian berkeliling di satu-satunya daerah yang masih di kelola oleh Keraton ini.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;img src=&#34;https://zhafirathaarchives.uk/post/pulang-bagian-2/ngawi.jpeg&#34;
	width=&#34;1600&#34;
	height=&#34;1402&#34;
	srcset=&#34;https://zhafirathaarchives.uk/post/pulang-bagian-2/ngawi_hu_b881df059d1bc28d.jpeg 480w, https://zhafirathaarchives.uk/post/pulang-bagian-2/ngawi_hu_3892841f8b312f13.jpeg 1024w&#34;
	loading=&#34;lazy&#34;
	
		alt=&#34;Ngawi.&#34;
	
	
		class=&#34;gallery-image&#34; 
		data-flex-grow=&#34;114&#34;
		data-flex-basis=&#34;273px&#34;
	
&gt; &lt;img src=&#34;https://zhafirathaarchives.uk/post/pulang-bagian-2/depan-kost.jpeg&#34;
	width=&#34;960&#34;
	height=&#34;1280&#34;
	srcset=&#34;https://zhafirathaarchives.uk/post/pulang-bagian-2/depan-kost_hu_f0a6d627e0b728f3.jpeg 480w, https://zhafirathaarchives.uk/post/pulang-bagian-2/depan-kost_hu_96d7d76b2e9542d7.jpeg 1024w&#34;
	loading=&#34;lazy&#34;
	
		alt=&#34;Yogyakarta, depan kost teman.&#34;
	
	
		class=&#34;gallery-image&#34; 
		data-flex-grow=&#34;75&#34;
		data-flex-basis=&#34;180px&#34;
	
&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Dari Yogyakarta, kami melanjutkan perjalanan melalui Jl. Daendels menuju Cilacap. Saya sempat mengira bahwa jalan ini dibangun oleh Hermann Willem Daendels. Namun, jalan di selatan ini dipercaya dibangun oleh anaknya, yaitu August Dirk Daendels. Jalan tersebut membentang lurus sejauh ±65km (termasuk Jl. Diponegoro).&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Setelah Jl. Daendels habis, kami melewati jalan arah Pantai Menganti. Jalan tersebut sangat amat curam dan berkelok-kelok, sangat menyiksa motor tua kami. Ditambah motor Yamaha Alfa saya yang sistem pengeremannya masih tromol, menambah adrenalin saya saat melintasi jalan itu. Di tengah jalan, kami sempatkan untuk berhenti terlebih dahulu untuk mendinkan mesin dan juga rem agar tetap aman melewati jalan yang cukup ekstrim.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;img src=&#34;https://zhafirathaarchives.uk/post/pulang-bagian-2/dinginin-rem.jpeg&#34;
	width=&#34;3000&#34;
	height=&#34;4000&#34;
	srcset=&#34;https://zhafirathaarchives.uk/post/pulang-bagian-2/dinginin-rem_hu_9b55cf80579442a0.jpeg 480w, https://zhafirathaarchives.uk/post/pulang-bagian-2/dinginin-rem_hu_a86d2ce957349d53.jpeg 1024w&#34;
	loading=&#34;lazy&#34;
	
		alt=&#34;Mendinginkan mesin dan rem.&#34;
	
	
		class=&#34;gallery-image&#34; 
		data-flex-grow=&#34;75&#34;
		data-flex-basis=&#34;180px&#34;
	
&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Perjalanan menuju Cilacap benar-benar menguras tenaga dan pikiran kami, ditambah menunggangi motor tua yang perlu keterampilan ekstra dalam mengemudikannya. Momen-momen sulit seperti ini lah yang berharga. Memang mungkin seperi itulah pulang, tidak selalu nyaman, namun bermakna.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Kami sampai di Cilacap pada pukul 22.30, memakan waktu sekitar 6 jam dari Yogyakarta karena menepi lumayan lama di Kebumen. Kota Cilacap begitu terang saat malam hari akibat nyala cerobong gas buang Pertamina RU IV Cilacap. Kota ini menjadi tujuan akhir bagi teman saya dan RX Kingnya, saya ikut bermalam di rumahnya untuk melankutkan perjalanan di esok hari.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;img src=&#34;https://zhafirathaarchives.uk/post/pulang-bagian-2/cilacap.jpeg&#34;
	width=&#34;960&#34;
	height=&#34;1280&#34;
	srcset=&#34;https://zhafirathaarchives.uk/post/pulang-bagian-2/cilacap_hu_13b30f2733504b81.jpeg 480w, https://zhafirathaarchives.uk/post/pulang-bagian-2/cilacap_hu_753f6150a902da15.jpeg 1024w&#34;
	loading=&#34;lazy&#34;
	
		alt=&#34;Halo, Cilacap!&#34;
	
	
		class=&#34;gallery-image&#34; 
		data-flex-grow=&#34;75&#34;
		data-flex-basis=&#34;180px&#34;
	
&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Setelah semalam menerima sambutan hangat di Cilacap, esoknya saya langsung berangkat menuju Ciamis. Sayang dalam perjalanan kali ini tidak sempat untuk berkeliling Cilacap, padahal ingin sekali saya mengunjungi Fort Pendem yang masih berdiri kokoh dan Pulau Nusakambangan tempat orang-orang ditahan dan dihukum. Cilacap, kota yang saya lalui ternyata dilalui juga oleh mereka yang mencari, menaklukan, dan bahkan diasingkan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;img src=&#34;https://zhafirathaarchives.uk/post/pulang-bagian-2/cilacap2.jpeg&#34;
	width=&#34;720&#34;
	height=&#34;1280&#34;
	srcset=&#34;https://zhafirathaarchives.uk/post/pulang-bagian-2/cilacap2_hu_35ba61240c3b3317.jpeg 480w, https://zhafirathaarchives.uk/post/pulang-bagian-2/cilacap2_hu_1e5d8955d5ce5ed0.jpeg 1024w&#34;
	loading=&#34;lazy&#34;
	
		alt=&#34;Cilacap.&#34;
	
	
		class=&#34;gallery-image&#34; 
		data-flex-grow=&#34;56&#34;
		data-flex-basis=&#34;135px&#34;
	
&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Dalam perjalanan menuju Ciamis saya diantar oleh teman saya sampai daerah Sidareja, dari sana saya melanjutkan perjalan seorang diri sampai Ciamis. Semakin jalan ke barat, udara terasa lebih segar, pohon-pohon semakin rapat, dan suara ranting diterpa angin semakin terdengar.  Sampai perbatasan Jawa Barat, hati terasa lapang, menandakan rumah yang dituju semakin dekat. Sampurasun Bumi Pasundan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Perbatasan Jawa Barat terasa begitu megah, gerbang masuk dan keluarnya berupa tugu kujang raksasa di kiri dan kanan jalan, dengan aksen aksara sunda dan lambang Provinsi di setiap tugunya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Disamping tugu kujang, terdapat patung harimau dan prajurit yang memegang tombak serta senjata api milik Kodam III Siliwangi. Di depannya tertulis “Siliwangi adalah rakyat Jawa Barat, Rakyat Jawa Barat adalah Siliwangi” yang menegaskan bahwa semangat Siliwangi bukan hanya milik tentara semata, melainkan milik seluruh rakyat Jawa Barat. Siliwangi bagi penduduk Jawa Barat bukan hanya sosok tunggal, melainkan semangat, nilai, dan identitas.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;div style=&#34;position: relative; padding-bottom: 56.25%; height: 0; overflow: hidden; margin-bottom: 1em;&#34;&gt;
  &lt;iframe 
    src=&#34;https://drive.google.com/file/d/1VINzRxio8kGMBqhixVWmzBopaQIKWR32/preview&#34; 
    style=&#34;position: absolute; top: 0; left: 0; width: 100%; height: 100%; border:0;&#34; 
    allow=&#34;autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture&#34; 
    allowfullscreen
    loading=&#34;lazy&#34;
  &gt;&lt;/iframe&gt;
&lt;/div&gt;
Sampurasun, Bumi Pasundan!&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Yah, lanjut kembali ke perjalanan menuju Ciamis. Dari perbatasan, saya melewati Kota Banjar, gerbang utama yang memghubungkan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Jalan mulai naik turun, khas jalan Jawa Barat. Hari mulai gelap, udara semakin dingin.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Sampai di Ciamis saya menepi di Indomaret depan Universitas Galuh, beristirahat sembari menunggu teman datang. Tebak saya akan kemana, karena dari Ciamis saya tidak langsung menuju rumah. Menunggu beberapa menit teman saya tiba, kami berdua langsung bersiap-siap dan membeli beberapa kebutuhan untuk perjalanan nanti.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Perjalanan dilanjut menuju barat, arah Tasikmalaya, mengitari Gunung Sawal. Di Cihaurbeuti, kami belok kanan ke arah Panumbangan, lalu naik menuju camp ground Puncak Jamiaki. Ya, cukup nekat memang setelah perjalanan jauh dari Surabaya untuk langsung naik ke salah satu puncak di Gunung Sawal, ditambah trekking dari posko penukaran tiket menuju aream camp yang cukup memakan tenaga karena kemiringan jalannya yang sangat curam.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;img src=&#34;https://zhafirathaarchives.uk/post/pulang-bagian-2/posko-jamiaki.jpeg&#34;
	width=&#34;960&#34;
	height=&#34;1280&#34;
	srcset=&#34;https://zhafirathaarchives.uk/post/pulang-bagian-2/posko-jamiaki_hu_34e1e6a6313d6de5.jpeg 480w, https://zhafirathaarchives.uk/post/pulang-bagian-2/posko-jamiaki_hu_df19424bd7b8b7c4.jpeg 1024w&#34;
	loading=&#34;lazy&#34;
	
		alt=&#34;Posko Puncak Jamiaki.&#34;
	
	
		class=&#34;gallery-image&#34; 
		data-flex-grow=&#34;75&#34;
		data-flex-basis=&#34;180px&#34;
	
&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Trekking menuju Puncak Jamiaki memakan waktu ±40 menit. Sampai di puncak waktu sudah menunjukan pukul 22.30. Udara dingin di puncak masih bisa diterima oleh tubuh (masih bisa koloran coy). Setelah memasang tenda, memasak, dan menyeduh kopi, kami menikmati pemandangan citylight dari Ciamis, Tasikmalaya, dan daerah lainnya. Malam itu, saya senang sekali karena tanah kelahiran sudah semakin dekat, rasa lelah perjalanan ditambah mendaki terbayar lunas.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;div style=&#34;position: relative; padding-bottom: 56.25%; height: 0; overflow: hidden; margin-bottom: 1em;&#34;&gt;
  &lt;iframe 
    src=&#34;https://drive.google.com/file/d/1sIMRQQyjxIIO8IRD5Ug13A442HSDj2qP/preview&#34; 
    style=&#34;position: absolute; top: 0; left: 0; width: 100%; height: 100%; border:0;&#34; 
    allow=&#34;autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture&#34; 
    allowfullscreen
    loading=&#34;lazy&#34;
  &gt;&lt;/iframe&gt;
&lt;/div&gt;
Citylight dari Puncak Jamiaki.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Pagi harinya, Puncak Jamiaki diselimuti kabut tebal. Pemandangan tertutup kabut. Permukaan tanah lumayan becek akibat hujan semalam. Meski begitu, saya tetap senang, karena perjalanan panjang akan berakhir hari ini.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Turun dari puncak, kami langsung menuju tujuan akhir, rumah. Kami melewati Panumbangan, Panjalu, dan Malausma. Tidak ada yang menarik dari perjalanan dari Jamiaki menuju rumah, karena mungkin saya sendiri sudah tidak sabar untuk mengakhiri kisah panjang ini.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Pukul 12.00, saya sampai. Tak ada sambutan luar biasa, hanya aroma rumah yang tak berubah meski sudah lama saya tinggalkan. Tapi mungkin inilah pulang, sederhana namun selalu saya rindukan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;img src=&#34;https://zhafirathaarchives.uk/post/pulang-bagian-2/sampai.jpeg&#34;
	width=&#34;960&#34;
	height=&#34;1280&#34;
	srcset=&#34;https://zhafirathaarchives.uk/post/pulang-bagian-2/sampai_hu_3595ddf8ba512e8a.jpeg 480w, https://zhafirathaarchives.uk/post/pulang-bagian-2/sampai_hu_ea7251af8185f657.jpeg 1024w&#34;
	loading=&#34;lazy&#34;
	
		alt=&#34;Sampai rumah.&#34;
	
	
		class=&#34;gallery-image&#34; 
		data-flex-grow=&#34;75&#34;
		data-flex-basis=&#34;180px&#34;
	
&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Perjalanan 695 km itu memakan waktu 4 hari 3 malam, 29,6 liter bahan bakar Pertamax, dan 1,7 oli samping. Tak terhitung berapa kali saya menepi, berteduh, atau sekadar meredakan pegal. Tapi yang sulit untuk dihitung mungkin adalah berapa banyak pikiran, kenangan, dan rasa yang muncul selama perjalanan itu.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Dan untuk kali ini, terimakasih Tuhan karena diberikan kesempatan untuk pulang, masih bisa menempuh jalan panajang, menaiki motor tua butut, dan menyusuri setiap jengkal ciptaan-Mu.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Sekian,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Zhafir Atha.&lt;/p&gt;
</description>
        </item>
        <item>
        <title>Kembali Ke Ciremai</title>
        <link>https://zhafirathaarchives.uk/post/kembali-ke-ciremai/</link>
        <pubDate>Sat, 11 Oct 2025 17:15:19 +0700</pubDate>
        
        <guid>https://zhafirathaarchives.uk/post/kembali-ke-ciremai/</guid>
        <description>&lt;img src="https://zhafirathaarchives.uk/post/kembali-ke-ciremai/jalur.jpeg" alt="Featured image of post Kembali Ke Ciremai" /&gt;&lt;p&gt;18-19 Juli 2025&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;3078 mdpl&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Majalengka, Jawa Barat&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Gunung Ciremai merupakan gunung tertinggi di Provinsi Jawa Barat dengan ketinggian mencapai 3078 mdpl. Ciremai berada di wilayah dua kabupaten yaitu Majalengka dan Kuningan. Gunung ini berstatus sebagai Taman Nasional karena perannya yang penting bagi ekosistem di daerah sekitarnya. Jalur pendakian di Ciremai dapat dilakukan melalui jalur Sadarehe dan Apuy di Majalengka, serta Linggarjati, Linggasana, dan Palutungan di Kuningan.  Simaksi (Surat Izin Masuk Konservasi) untuk melakukan pendakian Gunung Ciremai via Apuy dikenakan biaya 125.000 rupiah per tanggal 18 Juli 2025. Saya berangkat dari rumah menggunakan sepeda motor bersama dengan tiga orang teman menuju basecamp Berod yang merupakan titik awal pendakian Ciremai via Apuy dengan waktu tempuh sekitar 40 menit dari rumah melewati Bantarujeg, Talaga, Sunia, dan Terasering Panyaweuyan. Perjalanan menuju basecamp disuguhi dengan lanskap pemandangan yang indah, khususnya di daerah Terasering Panyaweuyan yang merupakan destinasi wisata panorama sawah berundak di lereng Gunung Ciremai.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;img src=&#34;https://zhafirathaarchives.uk/post/kembali-ke-ciremai/perbekalan-pasar-talaga.jpeg&#34;
	width=&#34;960&#34;
	height=&#34;1280&#34;
	srcset=&#34;https://zhafirathaarchives.uk/post/kembali-ke-ciremai/perbekalan-pasar-talaga_hu_9e681daf10e6ac79.jpeg 480w, https://zhafirathaarchives.uk/post/kembali-ke-ciremai/perbekalan-pasar-talaga_hu_7abb3e6a0abbab36.jpeg 1024w&#34;
	loading=&#34;lazy&#34;
	
		alt=&#34;Membeli perbekalan pendakian di Pasar Talaga.&#34;
	
	
		class=&#34;gallery-image&#34; 
		data-flex-grow=&#34;75&#34;
		data-flex-basis=&#34;180px&#34;
	
&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;div style=&#34;position: relative; padding-bottom: 56.25%; height: 0; overflow: hidden; margin-bottom: 1em;&#34;&gt;
  &lt;iframe 
    src=&#34;https://drive.google.com/file/d/1JBYmzZvZnteY8YexLbrVnLAEKzaKOeqH/preview&#34; 
    style=&#34;position: absolute; top: 0; left: 0; width: 100%; height: 100%; border:0;&#34; 
    allow=&#34;autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture&#34; 
    allowfullscreen
    loading=&#34;lazy&#34;
  &gt;&lt;/iframe&gt;
&lt;/div&gt;
Jalan menuju Panyaweuyan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Sesampainya di Desa Argamukti, jalan menuju basecamp cukup curam, kiri dan kanan jalan terlihat kebun-kebun milik warga setempat dengan komoditas seperti bawang daun, kol, pakcoy, cabai, dan lain-lain. Jika teman-teman membawa mobil, untuk menuju ke basecamp Berod harus menyewa mobil pick up, untuk mobilnya bisa diparkir di depan kantor desa Argamukti. Jika membawa motor, harap hati-hati, baik saat naik ataupun turun dikarenakan jalannya yang curam. Sesampainya di basecamp, saya langsung mengurus simaksi, melakukan packing ulang, dan makan terlebih dahulu sebelum memulai pendakian. Pendakian dimulai pada pukul 12.30 siang dengan kondisi cuaca berawan dari ketinggian basecamp yang berada di 1441 mdpl.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;img src=&#34;https://zhafirathaarchives.uk/post/kembali-ke-ciremai/jalur.jpeg&#34;
	width=&#34;914&#34;
	height=&#34;601&#34;
	srcset=&#34;https://zhafirathaarchives.uk/post/kembali-ke-ciremai/jalur_hu_8fdee1d5dcac8624.jpeg 480w, https://zhafirathaarchives.uk/post/kembali-ke-ciremai/jalur_hu_a00937afa38348d0.jpeg 1024w&#34;
	loading=&#34;lazy&#34;
	
		alt=&#34;Jalur pendakian Ciremai via Apuy. (gunungbagging.com/ciremai)&#34;
	
	
		class=&#34;gallery-image&#34; 
		data-flex-grow=&#34;152&#34;
		data-flex-basis=&#34;364px&#34;
	
&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;img src=&#34;https://zhafirathaarchives.uk/post/kembali-ke-ciremai/gerbang-masuk-apuy.jpeg&#34;
	width=&#34;960&#34;
	height=&#34;1280&#34;
	srcset=&#34;https://zhafirathaarchives.uk/post/kembali-ke-ciremai/gerbang-masuk-apuy_hu_5b6d8388b9d3728d.jpeg 480w, https://zhafirathaarchives.uk/post/kembali-ke-ciremai/gerbang-masuk-apuy_hu_dcb93eb26633f6c.jpeg 1024w&#34;
	loading=&#34;lazy&#34;
	
		alt=&#34;Gerbang pendakian Ciremai via Apuy.&#34;
	
	
		class=&#34;gallery-image&#34; 
		data-flex-grow=&#34;75&#34;
		data-flex-basis=&#34;180px&#34;
	
&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Perjalanan menuju Pos 1 Arban disuguhi trek yang cukup santai, tidak terlalu menanjak, dan bisa dilalui oleh motor (mungkin hanya ranger yang bisa). Disini perjalanan terasa cukup panas karena elevasinya yang mungkin belum cukup tinggi. Pos 1 Arban dapat saya tempuh dengan waktu ±40 menit, cukup cepat bagi saya yang biasanya mendaki dengan santai. Pos pertama ini berada di ketinggian 1632 mdpl, dengan elevation gain +191 dari titik mulai pendakian di ketinggian 1441 mdpl. Di Pos 1, saya dan teman pendakian saya bertemu dengan rombongan pendaki yang sedang turun, mereka juga turut beristirahat di Pos 1. Kami cukup lama berdiam di Pos 1 karena menunggu hasil unduhan peta navigasi di gawai, juga keasyikan mengobrol dengan rombongan pendaki yang sedang turun, kami dibuat tertawa karena logat bicara rombongan ini yang diketahui berasal dari Garut. Setelah menunggu unduhan peta navigasi luring yang telah selesai, dan juga obrolan yang sangat asyik dengan rombongan dari Garut, kami baru melanjutkan kembali perjalanan dari Pos 1 pada pukul 13.15. Trek menuju Pos 2 Tegal Pasang sudah mulai mengecil, melewati jalan setapak, vibes pendakian baru terasa disini. Tanjakannya juga tidak terlalu brutal, masih dapat dengan mudah dilalui. Waktu tempuh menuju Pos 2 Tegal Pasang dari Pos 1 kami tempuh ±40 menit. Jalur pendakian via Apuy terasa cukup sepi pada saat kami naik, mungkin karena pendakian kami dilakukan pada hari Jum’at, hari kerja. Di Pos 2, kami sempatkan untuk ngopi dan ngemil terlebih dahulu. Saat ngopi, sekelompok monyet (mungkin itu monyet ekor panjang, lutung, atau surili?) lewat bergelantungan diatas pohon, beberapa dari mereka sempat berhenti mengamati kelompok kami yang sedang ngopi.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;img src=&#34;https://zhafirathaarchives.uk/post/kembali-ke-ciremai/pos-2.jpeg&#34;
	width=&#34;960&#34;
	height=&#34;1280&#34;
	srcset=&#34;https://zhafirathaarchives.uk/post/kembali-ke-ciremai/pos-2_hu_f136d01a109185e2.jpeg 480w, https://zhafirathaarchives.uk/post/kembali-ke-ciremai/pos-2_hu_10659e64466767d5.jpeg 1024w&#34;
	loading=&#34;lazy&#34;
	
		alt=&#34;Pos 2 Tegal Pasang.&#34;
	
	
		class=&#34;gallery-image&#34; 
		data-flex-grow=&#34;75&#34;
		data-flex-basis=&#34;180px&#34;
	
&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Perjalanan dari Pos 2 ke Pos 3 Tegal Masawa kami tempuh dalam waktu ±1 jam.  Di Pos 3, kami berhenti kembali untuk beristirahat dan makan, menghabiskan sisa nasi di basecamp. Perjalanan dilanjutkan kembali menuju Pos 4 Tegal Jamuju, dengan kemiringan trek yang mulai curam. Waktu tempuh menuju Pos 4 ±20 menit tanpa berhenti. Di Pos 4 terdapat tenda ranger, memastikan jalur pendakian aman dan nyaman bagi pengunjung yang naik. Kami tidak berlama-lama di Pos 4, habis sebatang rokok, kami langsung melanjutkan pendakian menuju Pos 5 Sanghyang Rangkah yang menjadi tujuan kami untuk membangun tenda disana. Sampai di Pos 5, waktu menunjukan pukul 17.50. Dari Pos 4, waktu yang ditempuh untuk sampai ke Pos 5 ±40 menit. Di Pos 5, kami hanya mencari area untuk mendirikan tenda, kemudian menaruh tas carrier, tidak langsung mendirikan tenda (jangan dicontoh ya wkwk) karena naik kembali sedikit di atas Pos 5 untuk mengejar sunset. Sekembalinya melihat sunset, hari sudah mulai gelap, kami langsung mendirikan tenda dan memakai jaket. Suhu Gunung Ciremai di bulan Juli memang bukan main, tidak tahu berapa persisnya karena tidak ada alat pengukut suhu, tapi yang pasti sangat dingin. Di Pos 5 juga terdapat emergency shelter untuk digunakan apabila dalam keadaan darurat.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;img src=&#34;https://zhafirathaarchives.uk/post/kembali-ke-ciremai/pos-3.jpeg&#34;
	width=&#34;960&#34;
	height=&#34;1280&#34;
	srcset=&#34;https://zhafirathaarchives.uk/post/kembali-ke-ciremai/pos-3_hu_d3b6e0550860e06f.jpeg 480w, https://zhafirathaarchives.uk/post/kembali-ke-ciremai/pos-3_hu_306c1ee5465550ca.jpeg 1024w&#34;
	loading=&#34;lazy&#34;
	
		alt=&#34;Pos 3 Tegal Masawa.&#34;
	
	
		class=&#34;gallery-image&#34; 
		data-flex-grow=&#34;75&#34;
		data-flex-basis=&#34;180px&#34;
	
&gt; &lt;img src=&#34;https://zhafirathaarchives.uk/post/kembali-ke-ciremai/pos-4.jpeg&#34;
	width=&#34;960&#34;
	height=&#34;1280&#34;
	srcset=&#34;https://zhafirathaarchives.uk/post/kembali-ke-ciremai/pos-4_hu_285247e752c3890e.jpeg 480w, https://zhafirathaarchives.uk/post/kembali-ke-ciremai/pos-4_hu_b494abb41d470372.jpeg 1024w&#34;
	loading=&#34;lazy&#34;
	
		alt=&#34;Tenda ranger di Pos 4 Tegal Jamuju.&#34;
	
	
		class=&#34;gallery-image&#34; 
		data-flex-grow=&#34;75&#34;
		data-flex-basis=&#34;180px&#34;
	
&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Pos camp terakhir Ciremai via Apuy, Sanghyang Rangkah.
Sareupna di Ciremai.
Setelah mendirikan tenda, kami memasak dan makan. Di langit, bintang-bintang sangat jelas sekali terlihat, iseng saja saya tangkap lewat kamera. Saat yang lain ngopi dan saya sibum memotret bintang, pada pukul 21.00 datanglah rombongan pendaki dari Batalyon Arhanud Cirebon. Salah seorang anggota datang menghampiri tenda kami dengan kaos pendek motif army, celana kargo, dan sepatu bingkap (boots) ala tentara (buset apa nggak dingin ya brrrr….). Dia datang mengecek area camp dan dengat logat tegas khas tentara, dia mengobrol sebentar dengan kami, lalu melanjutkan aktivitasnya sendiri. Usut punya usut, ternyata Batalyon Arhanud sedang berulang tahun, maka dari itu, dalam rangka ulang tahunnya sebanyak 22 orang dari batalyon melakukan pendakian Gunung Ciremai (Selamat Ulang Tahun Arhanud hehe). Tak lama, kami berempat langsung bersiap-siap tidur untuk beristirahat karena akan summit attack di esok pagi. Saat malam, sulit sekali bagi kami untuk tidur nyenyak, setelah tidur lagi-lagi terbagun, begitu seterusnya sampai tak terasa sudah jam 3.00 pagi. Kami berempat langsung bangun, bersiap-siap, tak lupa ngopi dan mengisi tenaga terlebih dahulu dengan roti dan madu. Kami memulai summit kurang lebih pukul 04.00. Trek menuju puncak Gunung Ciremai sangat menguras tenaga, bernafas juga cukup sulit karena udara dingin yang menusuk hidung. Pukul 05.45 kami sampai puncak Gunung Ciremai, disambut sunrise yang sangat cantik dari timur, menampilkan Gunung Slamet, Sindoro, Sumbing, dan satu gunung lainnya (gatau). Dari puncak, terlihat jelas hamparan bumi pasundan (Jawa Barat). Tampomas, Cikuray, Galunggung, dan gunung lainnya di Jawa Barat juga ikut terlihat. Waduk Darma, Situ Sangiang, dan Waduk Jatigede juga turut terlihat.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;img src=&#34;https://zhafirathaarchives.uk/post/kembali-ke-ciremai/langit-ciremai.jpeg&#34;
	width=&#34;960&#34;
	height=&#34;1280&#34;
	srcset=&#34;https://zhafirathaarchives.uk/post/kembali-ke-ciremai/langit-ciremai_hu_b55b6a6d53d4b21.jpeg 480w, https://zhafirathaarchives.uk/post/kembali-ke-ciremai/langit-ciremai_hu_eb4457f411ffe5a1.jpeg 1024w&#34;
	loading=&#34;lazy&#34;
	
		alt=&#34;Langit dari Pos 5 Sanghyang Rangkah.&#34;
	
	
		class=&#34;gallery-image&#34; 
		data-flex-grow=&#34;75&#34;
		data-flex-basis=&#34;180px&#34;
	
&gt; &lt;img src=&#34;https://zhafirathaarchives.uk/post/kembali-ke-ciremai/anggota-arhanud-foto.jpeg&#34;
	width=&#34;960&#34;
	height=&#34;1280&#34;
	srcset=&#34;https://zhafirathaarchives.uk/post/kembali-ke-ciremai/anggota-arhanud-foto_hu_9aff907ed89dfb96.jpeg 480w, https://zhafirathaarchives.uk/post/kembali-ke-ciremai/anggota-arhanud-foto_hu_fc12fcbb13c480f6.jpeg 1024w&#34;
	loading=&#34;lazy&#34;
	
		alt=&#34;Anggota Arhanud sedang berfoto di papan bertuliskan Atap Jawa Barat.&#34;
	
	
		class=&#34;gallery-image&#34; 
		data-flex-grow=&#34;75&#34;
		data-flex-basis=&#34;180px&#34;
	
&gt; &lt;img src=&#34;https://zhafirathaarchives.uk/post/kembali-ke-ciremai/slamet-dll.jpeg&#34;
	width=&#34;960&#34;
	height=&#34;1280&#34;
	srcset=&#34;https://zhafirathaarchives.uk/post/kembali-ke-ciremai/slamet-dll_hu_273f2cb91a46eb97.jpeg 480w, https://zhafirathaarchives.uk/post/kembali-ke-ciremai/slamet-dll_hu_5d1076b80e7a58a2.jpeg 1024w&#34;
	loading=&#34;lazy&#34;
	
		alt=&#34;Slamet dan lainnya.&#34;
	
	
		class=&#34;gallery-image&#34; 
		data-flex-grow=&#34;75&#34;
		data-flex-basis=&#34;180px&#34;
	
&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;div style=&#34;position: relative; padding-bottom: 56.25%; height: 0; overflow: hidden; margin-bottom: 1em;&#34;&gt;
  &lt;iframe 
    src=&#34;https://drive.google.com/file/d/17Ex8ITjZz00P574UQfbYrsEWy3gmD0Z7/preview&#34; 
    style=&#34;position: absolute; top: 0; left: 0; width: 100%; height: 100%; border:0;&#34; 
    allow=&#34;autoplay; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture&#34; 
    allowfullscreen
    loading=&#34;lazy&#34;
  &gt;&lt;/iframe&gt;
&lt;/div&gt;
Lanskap dari Puncak.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Bagi saya pribadi, ini merupakan keempat kalinya saya menapakan kaki di puncak Ciremai, tiga kali lewat Apuy dan satu kali lewat Palutungan. Setelah menikmati lanskap yang indah, kami langsung turun ke Pos 5, kemudian memasak mie instan lalu beres-beres tenda. Saat turun, kami saling menyalip dengan kelompok dari Arhanud, cukup seru balapan turun dari Pos 5, kami hanya 2 kali stop saja, yaitu di Pos 2 dan Pos 1. Dengan tempo yang cepat tersebut, dari Pos 5 ke basecamp kami tempuh dengan hanya ±2 jam 30 menit saja, rekor turun dari Apuy tercepat bagi saya. Sampai di basecamp, kami langsung konfirmasi turun dan menukarkan kupon makan yang didapatkan bersama dengan tiket simaksi. Setelah itu kami pulang kembali ke rumah. Sebenarnya, setelah selesai melakukan pendakian, setiap orang diberikan sertifikat, tapi sertifikat kami tertinggal di warung makan basecamp Apuy. Cukup lucu tapi yasudah lah, sudah banyak sertifikat Ciremai lain di rumah.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;img src=&#34;https://zhafirathaarchives.uk/post/kembali-ke-ciremai/edelweiss-ciremai.jpeg&#34;
	width=&#34;960&#34;
	height=&#34;1280&#34;
	srcset=&#34;https://zhafirathaarchives.uk/post/kembali-ke-ciremai/edelweiss-ciremai_hu_5b3156b3c198ee18.jpeg 480w, https://zhafirathaarchives.uk/post/kembali-ke-ciremai/edelweiss-ciremai_hu_c04195fdb06ad184.jpeg 1024w&#34;
	loading=&#34;lazy&#34;
	
		alt=&#34;Bunga Edelweiss di Ciremai.&#34;
	
	
		class=&#34;gallery-image&#34; 
		data-flex-grow=&#34;75&#34;
		data-flex-basis=&#34;180px&#34;
	
&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Ciremai selalu ada tempat tersendiri bagi saya, bukan hanya karena jaraknya yang dekat dari rumah, tapi juga karena merupakan gunung pertama yang saya daki. Ciremai tak pernah membuat saya bosan untuk mengunjunginya, kedepannya pasti saya akan kesini lagi, entah dengan orang yang sama, orang baru, atau sendiri.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Sekian,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Zhafir Atha.&lt;/p&gt;
</description>
        </item>
        <item>
        <title>Halo :D</title>
        <link>https://zhafirathaarchives.uk/post/halo-01/</link>
        <pubDate>Fri, 10 Oct 2025 20:11:28 +0700</pubDate>
        
        <guid>https://zhafirathaarchives.uk/post/halo-01/</guid>
        <description>&lt;img src="https://zhafirathaarchives.uk/post/halo-01/sikunir-peak-01.jpeg" alt="Featured image of post Halo :D" /&gt;&lt;h2 id=&#34;halooo&#34;&gt;Halooo!
&lt;/h2&gt;&lt;p&gt;Berawal dari kekesalan saya ke WordPress, karena pusing banget kudu bayar-bayar segala macem. Akhirnya, setelah sekian banyak percobaan, blog ini jadi juga. Buat saya yang awam bikin kek beginian berasa jadi &lt;em&gt;fullstack developer&lt;/em&gt; wkwk. Yah, semoga blog ini dapat terisi dengan hal-hal yang bermanfaat wkwk. Oh ya, saya juga harus &lt;em&gt;migrate&lt;/em&gt; tulisan-tulisan saya di WordPress kesini sih. Yaudahlah ya, &lt;em&gt;Ciao!&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Zhafir Atha&lt;/p&gt;
</description>
        </item>
        
    </channel>
</rss>
