<?xml version="1.0" encoding="utf-8" standalone="yes"?>
<rss version="2.0" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">
    <channel>
        <title>Personal on Zhafir Atha Archives</title>
        <link>https://zhafirathaarchives.uk/categories/personal/</link>
        <description>Recent content in Personal on Zhafir Atha Archives</description>
        <generator>Hugo -- gohugo.io</generator>
        <language>en-us</language>
        <lastBuildDate>Wed, 12 Aug 2026 21:28:42 +0700</lastBuildDate><atom:link href="https://zhafirathaarchives.uk/categories/personal/index.xml" rel="self" type="application/rss+xml" /><item>
        <title>Maaf dan Terimakasih</title>
        <link>https://zhafirathaarchives.uk/post/maaf-terimakasih/</link>
        <pubDate>Wed, 12 Aug 2026 21:28:42 +0700</pubDate>
        
        <guid>https://zhafirathaarchives.uk/post/maaf-terimakasih/</guid>
        <description>&lt;img src="https://zhafirathaarchives.uk/post/maaf-terimakasih/image.png" alt="Featured image of post Maaf dan Terimakasih" /&gt;&lt;p&gt;Pertanyaan kapan saya akan diwisuda akhirnya sebentar lagi akan terjawab, menyisakan waktu tunggu dan instruksi dari kampus. Masih ada satu dua urusan lagi sebelum saya akan menjadi sarjana. Maka dari itu, saya belum bisa pulang, masih terikat dengan kota ini, sampai nanti semua urusan telah usai. Kalimat-kalimat dalam tulisan ini saya rangkai pada masa tunggu ini, di dini hari, ketika pikiran mengelebat dan emosi sedang padat.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Empat tahun saya berada di kota ini, Surabaya. Pertama kali datang lewat kereta, berhenti di Stasiun Gubeng saat itu, membawa tas ransel besar 55 liter dan tas jinjing, tanpa ada yang menemani. Sendiri saja saya berjalan dari stasiun melewati Monumen Kapal Selam, lurus terus sampai alun-alun. Itulah kali pertama saya berjalan di atas Bumi Pahlawan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Untuk transportasi sehari-hari, saya membeli sebuah motor lawas yang masih ada hingga saat ini, Yamaha Alfa produksi tahun 1989 yang saya temukan di listing marketplace facebook. Saya beli dengan uang tabungan, tetapi karena pada saat transaksi uang saya kurang, mintalah saya dana tambahan dari orang tua. Motor inilah yang menemani saya menempuh pendidikan selama empat tahun, menemani mulai dari ospek dan mungkin saja hingga saya diwisuda nanti.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Selama ini saya selalu menganggap waktu terasa begitu cepat berlalu. Tetapi, ketika saya melihat kembali ke belakang, empat tahun ternyata bukan waktu yang sebentar. Dipikir-pikir kembali, dari masa orientasi hingga masa yudisium saat ini saya telah bertemu dengan banyak sekali orang yang datang dan pergi. Ada yang hanya berpapasan sekali, ada yang sempat berjalan cukup lama, ada yang akhirnya memilih jalannya masing-masing, ada juga yang kehadirannya memberikan bekas yang mungkin akan saya ingat seumur hidup. Tanpa mereka tentu perjalanan saya di episode ini tidak akan menjadi cerita yang sama.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Kuliah bukan kali pertama saya merantau, sebelumnya sejak dari SMP pun juga saya sudah jauh dari rumah. Lalu SMA dan kemudian kuliah. Jadi saya sendiri tidak terlalu kaget ketika tinggal sendirian di Surabaya, terlebih ini adalah kota pilihan saya untuk berkuliah. Yang saya kagetkan adalah betapa teriknya kota ini. Bagi saya yang terbiasa tinggal di dataran tinggi dengan suhu yang dingin tentunya bukan hal mudah untuk beradaptasi.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Lalu kenapa memilih Surabaya? Jujur saja saya awalnya agak terpaksa untuk berkuliah. Karena saya tidak lolos SBMPTN dan SNMPTN, niat saya adalah untuk rehat sejenak dari dunia pendidikan selama satu tahun, lalu kemudian mencoba untuk tes SBMPTN kembali nanti. Tetapi karena orang tua saya pada saat itu agak ngotot untuk menguliahkan saya, akhirnya saya diberikan kebebasan untuk memilih kampus dan jurusan walaupun lewat jalur mandiri. Waktu itu saya mengambil keputusan untuk merantau yang jauh sekalian, akhirnya terpilihlah Surabaya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Keterpaksaan itu membawa saya menuju lingkungan yang benar-benar asing. Tak terbayangkan selama hidup saya akan berkuliah disini, dengan bahasa dan budaya yang baru. Awal tinggal di sini, teman berbincang saya hanyalah Pakde dan Bude yang sudah pensiun, dengan keseharian menjaga warkop persis depan kost saya tinggal. Saat mereka saling berbincang, saya hanya menjadi pengamat, tak mengerti kata yang mereka ucapkan, memaksa saya untuk belajar bahasa baru dan menyesuaikan diri dengan sekitar. Tak semuanya berjalan dengan nyaman, namun waktu punya caranya tersendiri untuk membuat sesorang merasa terbiasa.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Oranh pertama yang saya kenal saya temui di agenda pengukuhan mahasiswa baru, satu departemen dengan saya. Saya memberanikan diri untuk mengajaknya berkenalan. Walaupun cerita kita berbeda, pada hari itu semua orang sedang memulai cerita baru. Tak disangka, orang yang pertama kali saya sapa masih menjadi teman dekat hingga hari ini. Dari sapaan awal tadi juga membawa saya menuju banyaknya pertemuan lain selama empat tahun berikutnya. Dari satu perkenalan, saya dipertemukan dengan orang-orang baru yang kemudian mengisi berbagai kisah dalam perjalanan saya selama di Surabaya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Sejak saat itu, hari-hari yang saya jalani berubah, dipenuhi oleh rutinitas yang mungkin saja suatu saat nanti akan saya rindukan. Berangkat kuliah dengan motor tua, mengejar deadline tugas, turun lapangan, mencoba berorganisasi, rapat, begadang, hingga pulang larut menembus angin malam Surabaya. Dalam menjalaninya terasa biasa saja, bahkan mungkin malas. Namun ketika sudah berada di penghujung kisah tersebut, saya mulai merindukan rutinitas-rutinitas itu.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Oke.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Waktu memang selalu menang, membawa saya ke penghujung kisah ini tanpa saya sadari. Kisah empat tahun terlalu panjang untuk dituangkan dalam kata. Ada tawa yang tidak sempat saya ceritakan, ada air mata yang tidak pernah saya tunjukkan, ada pertemuan yang memgubah hidup, ada perpisahan yang diam-diam mengajarkan banyak hal, ada harapan yang akhirnya tercapai, ada penyesalan yang tetap tinggal sebagai pengingat, ada, ada, dan ada yang lainnya. Tidak semuanya layak untuk dikenang, tapi kisah itulah yang membentuk siapa saya hari ini.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Tulisan ini memang sedari awal saya buat untuk menutup perjalanan empat tahun ini. Dengan kata &amp;ldquo;Maaf dan Terimakasih&amp;rdquo;. Izinkan saya menyampaikan keduanya disini.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Pertama, saya ingin meminta maaf.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Maaf kepada siapapun yang pernah mengenal saya selama saya di Surabaya. Kepada teman, doaen, mentor, kestari, kakak tingkat, adik tingkat, rekan kerja, tetangga kost, teman kontrakan, dan siapapun yang pernah bertemu atau berpapasan sekali.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Maaf.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Maaf apabila saya pernah mengecewakan, mengucapkan sesuatu yang melukai, menghilang tanpa penjelasan, tak balas kebaikan yang diberi, menjadi seseorang yang tak sesuai harapan, dan salah-salah lainnya. Saya sadar banyak sekali kesalahan yang saya lakukan baik yang saya sadari ataupun yang luput dari perhatian.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Maaf.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Menjadi bagian dari orang lain memang bukan perkara yang mudah, begitu pula membiarkan orang lain menjadi bagian dari hidup kita. Setiap pertemuan tidak diciptakan sempurna, ada salah paham, ada ego, dan ada keputusan yang meninggalkan luka. Saya percaya semua itu adalah bagian dari proses untuk kita bertumbuh.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Dan yang kedua, saya ingin ber-Terimakasih.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Terimakasih kepada semua orang yang telah menjadi bagian dari empat tahun ini. Kepada teman-teman semua yang telah membersamai hingga saat ini atau yang hanya singgah, kepada kampus Ibu Yang Luhur dan semua dosen,  meskipun saya tidak selalu menjadi mahasiswa yang baik.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Terimakasih.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Kepada siapapun yang menemani disaat saya sendiri, yang menampung keluh kesah saya di tengah malam, yang meminjamkan waktu, tenaga, atau hanya sekadar telinga untuk m3ndengarkan. Untuk bantuan sekecil apapun yang mungkin sudah lupa diberikan, namun tak pernah akan saya lupakan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Terimakasih.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Kepada kedua orang tua saya yang telah mengarahkan saya untuk berkuliah. Tanpa ngototnya mereka mungkin kisah saya di Surabaya tak akan terjadi.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Terimakasih.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Kepada semua yang pernah buat kecewa, yang membuat saya mungkin bisa sedikit bermental baja. Saya sadar bahwa semua tak bisa sesuai ekspektasi, semuanya tak akan pwrnah selalu berjalan mulus.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Empat tahun yang lalu sejak saya turun dari kereta, pertama kali menginjakkan kaki di Surabaya. Dengan tas ransel besar dan tas jinjing, tak tahu banyak tentang kota ini. Saat ini, sebentar lagi saya akan lulus, artinya kisah saya mengejar gelar sarjana harus saya tutup, saya sendiri belum selesai dengan kota ini, saya rasa memang saya belum ingin berpisah dengan kota ini. Entah setelah ini saya akan pergi ke mana, mungkin akan pergi untuk mengejar kehidupan lain, atau mungkin tidak. Mungkin saja saya mendapatkan pekerjaan di sini dan kembali menjalani hari-hari yang berbeda. Tak ada yang tahu. Untuk saat ini, saya hanya ingin membiarkan hidup membawa saya kemana ia akan membawa saya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Bagi saya kota ini bukan sekadar tempat saya berkuliah. Empat tahun terlalu panjang untuk membuat ia hanya menjadi sebuah titik di riwayat pendidikan. Di sini saya pernah datang tanpa tahu apapun, kemudian perlahan mengenal jalan, orang-orang, dan diri sendiri. Mungkin nanti saya akan melewati jalan yang sama dengan tujuan yang berbeda. Bukan lagi mengejar kelas pagi atau mengurus tugas tatepi bisa jadi untuk bekerja, mengunjungi kawan lama, atau hanya luntang-lantung tanpa tujuan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Terlalu dini untuk saya mengucapkan selamat tinggal kepada kota ini.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Dan untuk semua orang yang pernah bersinggungan takdir dengan saya selama empat tahun ini,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Maaf dan Terimakasih.&lt;/p&gt;
</description>
        </item>
        
    </channel>
</rss>
